23.11.10

Sebelum tulangmu menjadi abu


Uda…
begitu banyak cinta yang telah aku syukuri,
tentu saja.
jangan kau kira aku lupa
dengan semua serpih asa yang pernah kita titi
di setapak waktu.

dalam rindu dan ragu
mimpi ini menggelayut pada dadamu
melingkupinya dengan cinta, setulus-tulusnya.
benih harapan yang tersemaikan
oleh kokoh kedua tangan dinginmu
masa depan yang terpancar
di bola mata jundi-jundi kecilku.
sinar yang sama seperti kudapati di matamu.

Tapi
hati wanita ini juga cidera, Uda.
dan diam sekian lama..
kau hanya tak tahu
tangis hening setiap sujudku
terisak payah pada ujung-ujung malam yang lelah
bagaimana pun gores ini harus tertutupi
sebelum esok pagi
Karena aku tak sudi
bola-bola mata polos itu melihat dukaku.

Kau khilaf, Uda.
aku tahu. Dan aku tak pernah mengutukmu.

Kau mengetuk pintu itu..
Pintu yang sama tempat kita melafazkan asa, dulu
Aku tak pernah lupa dengan ikatan kita
Tak pernah sedikitpun.

Bersabarlah sedikit lagi. Berdoalah.
Yang sebenarnya terjadi,
Jauh di dalam hatiku, rindu padamu hanya tersekati, terperangkapi.

Beri aku waktu, Uda.

mentasbihkan hati ini
meluaskannya menjadi telaga seperti kau kata
agar bisa kau basuh salahmu…
agar bisa kularutkan lukaku…

Sebelum tulangmu menjadi abu.


****************


(terinspirasi dari puisi : pada abu tulangku nanti)

9 komentar:

  1. berasa dejavu bca tulisan ini :c: serupa dengan tulisan om langit :c: ah tidak, ini seperti balasan dr tulisan om langit :d: keren banget mbak sasab :d: love itu much :d:

    kyknya aku juga perlu belajar dr mbak sasab nih soal pemilihan kata dalam puisi seperti ini :d:

    keren banget nah :d:

    BalasHapus
  2. Keren tante :i:

    Ajarin bikin kaya gini dunk :i:

    BalasHapus
  3. aihhhh, keren neng..

    Tweety like it.. :d:

    BalasHapus
  4. gimana caranya bikin puisi yang bisa berbait-bait gini ya :a:

    BalasHapus
  5. tsaaah... menggodaa...

    BalasHapus

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.