9.12.11

Catatan Kecil

*Berhubung lama tidak ada yang posting, jadi saya putuskan untuk memposting tulisan narsis dan abal-abal ini.*

Seorang lajang yang dikejar-kejar pertanyaan "kapan menikah" pasti akan mikir betapa bahagianya mereka yang sudah menikah. Tidak perlu repot-repot mencari jawaban setiap pertanyaan tersebut muncul. Bagi yang sudah menikah (tidak semuanya), bisa saja iri melihat lajang yang bisa kesana-kemari, hang out tanpa mikirin suami dan anak. Lalu bagaimana dengan saya? Kenapa memutuskan menikah? Jujur, saya tidak punya sekian alasan yang "ndakik-ndakik." Saya tidak bisa sendirian. Saya butuh teman hidup yang saya cintai dan mencintai saya. That's it. *lebaayyy, ngemut jarik*

I'm single but happy tidak berlaku bagi saya. Toh ternyata hidup saya lebih bernyawa setelah saya menikah. Ada seseorang yang menyambut pagi saya dengan pelukan, mendengarkan ketika saya ingin didengar dan merengkuh tubuh mungil saya ketika semangat saya meluruh. Termasuk didalamnya keributan antara dua manusia yang semula bisa seenak jidatnya menjalani hidupnya.

"Menikah karena ingin punya anak." Lalu bagaimana kalau kau, saya atau siapapun bertemu dengan seseorang yang tidak bisa menghasilkan keturunan, atau sudah melalukan tubektomi atau vasektomi, atau sudah tidak punya rahim lagi pasca operasi kanker, atau apa sajalah. Mati-matian membuang keinginanmu untuk membagi hidupmu bersamamu...? Sah-sah saja, lagipula setiap orang punya alasan kenapa menikah dan bagaimana memilih pasangan hidup. Tapi menikah denga alasan ingin punya anak tidak pernah terlintas di benak saya hingga saya tidak pernah mengkhawatirkan jam biologis saya.

Sayapun pernah merasa risi ketika dikejar pertanyaan oleh seantero jagad "kapan menikah?." Sempat membuat saya kemrungsung ingin segera menikah karena menganggap itu adalah jalan keluar paling sempurna. Sempat terpikir bahwa "writing tresna jalaran saka kulina" mungkin ada benarnya dan saya mau nekat menempuhnya. Untung saja otak saya bisa waras kembali dan sayapun memilih mundur teratur. He is not the right man. Saya boleh jadi lepas dari pertanyaan "kapan menikah" tapi selanjutnya no one knows. Bahagiakah saya atau merana karena ternyata telah salah mengambil keputusan?

"Segala sesuatu indah pada waktunya." Terdengar klise pastinya. Namun saya mengamini kalimat klise itu setelah saya menengok kembali pada perjalanan yang detik demi detiknya membawa saya ke titik ini.


Bagaimana dengan perbedaan budaya? Suami saya orangnya "to the point", nggak ada basa-basi. Mengatakan langsung apa yang ada di pikirannya, tapi sayapun jadi terbiasa terbuka dengan isi kepala saya. Kami tidak membiarkan saling menduga apa yang ada di benak kami sehingga meminimalkan konflik berkepanjangan jika terjadi perseteruan dua kubu. Dan saya masih ingin terus bersamanya, membagi setiap detail perjalanan hidup saya, senyum, keributan, apapun, susah senang.

1.11.11

Sekedar Menyapa :)

Halo teman - teman, kakak - kakak, mbak - mbak sekalian.
Selamat bulan November :)
Semoga selalu diberi kesehatan dan berada dalam lindungan-Nya.
Maaf, sudah lama tidak mampir dan menulis disini :(

14.10.11

MAMPIIIIIIIIIIIIIIIIIRRRRRRRRRRRRRRRRRR

Cuman mau teriakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk SEMUAAAAAAAAAAAA KEMANAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA??????????????????????????

11.10.11

Confession

I was scared.
so. f*cking. scared.

what happens few weeks ago was too good to be true. everything, was too good to be true. but then again, i don’t wanna be a victim of the broken heart anymore. i’m tired of being the third person. i really, really falling too deep for you. i’m too scared yet too happy. it’s like trapped in the same place again if i want something’s not my right. i was really scared. can you understand that…

you’re the first person who making me feeling like a numb person. it’s almost a year, and i’m so scared, and you’re still with her, what should i do now…

‘cause really, i can’t help my self…
i love you…

3.9.11

RANDOM

Udah lama gak ngerasain perasaan ini,,,
udah lama gak mikirin seseorang lagi...

Sekarang, setelah sekian lama, gak suka sama orang,
gw mulai mikirin perasaan seseorang lagiii,
mikirin dia lagi ngapain ato apa kabarnya
bertanya-tanya tentang apa yang lagi dia kerjain

udah lamaaaaaa banget gw gak mikirin seseorang ampe segininya..
tapi gw takut untuk ngelangkah..
takut untuk berharap...
takut untuk memulai..
tapi menyimpan semuanya sendiri juga menyakitkan..

ngeliat dia deket sama cewek laen, digosipin sama cewek laen juga sedihh..
duh,kenapa sih cinta kok jadi alay plus lebay gini??
kok gw jadi menunggu-nunggu sebuah cinta yang gak pasti...


gw jadi labil.. bentar-bentar ketawa sendiri, nangis sendiri.. :(
emang suka segini campur aduknya yah??

21.8.11

Tugas istri sebenarnya apasihhh???


Yah anggap aj gw pembantu lo!!!
Orang yg nyuciin sm nyetrikaiin baju lo!!!
Orang yg bukain lo pintu stiap lo plng malam!!!
Gw bukan sp2 bagi lo,,,dan gw sadar akan hal itu...

Ungkapan esmosi diatas adalah kata-kata seorang teman dalam status muka buku…kalimatnya membuat saya sedikit terlonjak saat membacanya, lama menatap dan akhirnya memutuskan tidak meninggalkan komentar apapun….saya tidak punya cukup keberanian untuk mengetik walau hanya sebuah huruf.

Membaca kalimat diatas, tentu saja akan membuat semua orang yang membacanya berfikiran kalau rumah tangga mereka tidak baik-baik saja. Pilihan kalimatnya mau tidak mau menggiring pemikiran saya kalau dia merasa tidak dianggap sebagai seorang istri tetapi sekedar sebagai pembantu..apakah benar demikian?? Wallahu’alam

Oke…saya tidak punya pengalaman apapun masalah rumah tangga -yaiyalah nikah aja belum- tetapi setahu saya, pernikahan adalah separuh addien yang artinya menjadi pelengkap agama kita, bukan sebagai ajang mencari pembantu gratis sodara!!!

Walaupun akhirnya seorang perempuan setelah menikahnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga misalnya mencuci, memasak, membersihkan rumah, dan pekerjaan remeh temeh lainnya yang mungkin biasa menjadi pekerjaan seorang khadimah, yah menurut saya itu hanya cara yang dipilihnya untuk menunjukkan bahwa ia adalah seorang istri yang bertanggung jawab terhadap urusan dalam rumahnya.

Okeee ada pendapat dari para istri-istri? Saya udah gak bisa nulis lebih panjang lagi dari ini :D

4.8.11

Selamat Ulang Tahun Sahabat



Sahabatku,

Nampaknya engkau sedang jatuh cinta (lagi)

Pada seseorang yang penuh perhatian padamu

Walau belahan jiwamu slalu setia menantimu

Sahabatku,

Engkau sedang berada di persimpangan jalan

Tuk lanjutkan perjalanan bersama belahan jiwamu

Atau menepikan hatimu sejenak

Pada si dia yang telah memesonamu

Hatimu sedang dilanda dilema

Mengikuti belahan jiwamu

Walau bahagia masih jauh panggang dari api

atau mengikuti si dia

Walau hanya bahagia semu tiada arti

Kau slalu merindukannya, kala dia sedang pergi

Namun kau slalu menjauh, kala dia sedang mendekatimu

Walau kau hanya ingin menyimpannya dalam sudut hatimu

Dan aku menjadi tumpahan amarahmu

Kala hatimu sedang terluka

Saat dirinya sedang menjauh darimu

Di hari ulang tahunmu ini

Kukembalikan hatimu yang telah kucuri, pada belahan jiwamu, selamanya

Selamat Ulang Tahun Sahabat, semoga engkau menjadi lebih dewasa dan semakin bijak ...

31.7.11

Pengen nangissssss :((

Genta kenangan hadir menciptkan sesak
Hingga tangis akhirnya kuteguk
Dalam dinding beku tak bertuan
Dan kupilih padamkan dian


Tak pernah berpikir akan bisa bertemu kembali dengannya setelah lama tidak bersua  dan mengetahui apapun tentangnya. Kini dia hadir tepat didepan saya, dan akhirnya membuat saya ingin meluruhkan sesak yang menjelma air mata.
Apa yang dia bawa kembali?? Tidak ada, hanya sejumput kenangan yang ingin kuenyahkan jauh-jauh, dan kini serupa tanpa dosa dia datang membawa apa yang telah kulemparkan dahulu. Ingin kupinta padanya untuk pergi, jauh dari batas pandangku, tapi lagi-lagi lisanku hanya menyuarakan kekosongan.

24.7.11

Mengingat Mati


Palembang, 2011 Juli dihari ke-15

Umurku 24 tahun 7 bulan 15 hari kini, aku tidak punya apa-apa selain keluarga, beberapa teman. Yah itulah yang kumiliki sekarang, minimal hanya itu yang bisa kuakui kumiliki. Itupun hanya untuk sementara waktu sampai akan tiba saatnya Pemilik yang sesungguhnya akan datang dan mengambilnya tanpa bisa kucegah.

Semua orang pernah merasai kehilangan -tentu saja- dan aku…aku mungkin termasuk dalam golongan orang yang masih merasa sulit menerima kehilangan seseorang. Saya bisa dengan yakin mengatakan, insyaAllah bisa menerima kehilangan barang dengan lapang, seperti saat harus kehilangan hp pertama yang diberi orang tua, kehilangan beberapa pulpen biru, kehilangan peralatan-peralatan gambar, kehilangan ratusan ribu lembar rupiah. Tapi rasanya, saya tidak selapang itu ketika harus kehilangan orang-orang terdekat dalam hidup.

Saya masih mengingat dengan jelas, bahkan bisa menjelaskan detail peristiwa saat kakek saya menjelang meninggalnya. Mengingat saat kecil, saya merasa hanya dia yang menyayangi saya, mengingat ketika beliau habis menerima pensiunannya, akan teriak dari bawah rumah mengajakku membeli krupuk ‘kopi susu’. Mengingat saat saya diiming-imingi upah agar bersedia mencabuti rambut putihnya, mengingat dia menggendongku saat pura-pura tidur  karena aku tidak ingin pulang ke rumah.

Malam ini, ingatan akan orang-orang yang pernah datang, singgah dan kemudian pergi dalam hidup saya datang silih berganti. Dan saya lupa kapan terakhir kali merapalkan doa untuk mereka.
Malam ini anggap saja saya menyelesaikan satu fase renungan singkat, saya mengingat apa saja yang pernah saya lakukan, mengingat orang-orang yang pernah selintasan jalan dalam poros saya, mengingat orang-orang yang mungkin pernah merasa tersakiti karena saya, mengingat betapa keras kepalanya saya dan betapa sulitnya mengucap maaf.

Dan saya disini kini…berfikir…mungkinkah saat saya meninggal kelak, akan ada orang yang mengingat saya seperti saya mengingat kakek saya? mungkinkah akan ada orang yang bersedia mengucap barisan doa untuk saya? akan ada yang menyimpan kenangan tentang saya dengan begitu rapi? Entahlah…


*note....menunggu modem nyampai untuk mosting ini

20.7.11

Cuaca dan Kostum


Cuaca.... Ramalan cuaca yang bila diabaikan bisa membuat berantakan beberapa hal. Salah kostum, itu salah satu contohnya yang bisa bikin sebel. Nggak ada persiapan payung atau jas hujan, itu lebih bikin kesal.

Payung atau jas hujan...?? Saya nggak punya jas hujan. *sengaja* Jadi kalau kemungkinan besar turun hujan, cukup bilang “Lief, wil jij morgen mij brengen? (Lief, besok mau antarkan aku?). Jurus andalan itu selalu mempan, jadinya saya bisa menikmati fasilitas antar jemput.

Di Indonesia rasanya nggak ribet-ribet amat, mesti tahu prakiraan cuaca dan sejenisnya. Di Belanda, woowww bisa lain ceritanya. Cuaca disini cenderung basah, maksudnya sering turun hujan gitu, tidak ketinggalan angin yang selalu rajin berhembus. Mulai dari skala mendesah sampai dengan skala yang “gemrubug,” kencang disertai suara yang menggelora.

Musim panas juga nggak berarti matahari bersinar dengan centilnya sepanjang hari. Bisa saja paginya anget bin sumringah, siangnya hujan dingin semriwing. Disini cuaca bisa berubah seketika nggak pake permisi. Malam hari biasanya saya udah mantengin ramalan cuaca. Setelahnya paling tidak saya jadi tahu besok pakai baju yang lumayan menghangatkan atau cukup baju tropis.

16.7.11

You're not center of the world

“Lihat perempuan disana, kampungan banget ya bajunya.”
So what, is that a crime??!! *diam, menelan ludah*

“Kampungan banget pria itu, jalan pake celana selutut.”
Hellloooo, dit is zomer. Zomer….. summer… apapun namanya yang jelas panas tau!!! *masih diam, ambil napas dalam-dalam*

Merajut yukk...


Assalamulaikum...
Merajut..merajut..merajut..semua serba merajut, udah 3 bulan ini belajar merajut, bermula dari temen kantor yang beli benang rajut akhirnya ikutan tertarik merajut. Merajut itu sebenernya gampang2 susah tapi intinya terus belajar.
Oke..ini niy yang pertama kali saya lakukan waktu mau belajar merajut, boleh siy jadi tips buat kalian yang mau merajut *merajut benang lhoo bukan merajut kasih :D*

10.7.11

Lelahmu..

Telah lama ku minta untuk berhenti
Tapi kau tetap memaksakan diri
Untuk tetap bisa menjalani semua ini
Masih berharap pada semunya mimpi
Hingga kini kau bilang, lelah sendiri
Karna aku telah lama berhenti untuk peduli
Tapi kau tak jua mengerti
Cinta ini sampai kapanpun tak bisa kita miliki bahkan sekalipun kita beli
Hingga akhirnya kau menyerah dan berhenti mencintai
Baguslah, akhirnya kau mau mengerti untuk bisa melepas kisah ini..

9.7.11

The Rooftop

Ingat saat di rooftop dulu chér? Aku masih ingat tiap detilnya. Haha, pasti aku terlihat begitu menyedihkan di matamu sekarang … menulis hal-hal seperti ini seperti orang tak punya kerjaan. Padahal, mungkin saja kau sedang bersama dia sekarang. Atau ‘teman’ mu. Aaarrrggh! Sudahlah! Aku tak akan bahas mereka kali ini. Menuliskannya saja sudah membuatku sebal.

Anyhow, kemarin aku bernostalgia di rooftop sana. Obrolan, gerimis, iPod, Un Soir du Paris, Filosofi Kopi, Stanza dan Blues, bisikan, genggaman tangan, kecupan pipi. Semuanya masih terekam jelas. Haha, i feel like the real pathetic now.

O well yang jelas, langit di bagian barat sangat indah kemarin. Dan ternyataa, kita juga sudah menghadap ke barat, sayangnya tidak di waktu yang tepat. Like what people said, bad timing.

Tiba-tiba aku jadi teringat kalau kau pernah meliput Bekasi Jazz Festival! Pasti keren sekali di sana! Sebuah festival jazz, berbagai artis, di malam hari, di sebuah rooftop. Dan seandainya bersamamu saat itu, aku pasti takkan fokus menonton mereka. Mungkin hanya akan menggenggam erat tangan dan curi pandang akan wajahmu. Hahaha, what a dream L*** what a dream.

Aaah, banyak sekali hal yang kuingat tentang mu chér …

Adakah kenangan tentang ku yang terekam di benak mu? Ah tidak. Tadi terlalu muluk. Bagaimana kalau ini ; Sempatkah aku melintas di pikiranmu barang sejenak?



Bekasi, 15 November 2010.

7.7.11

Am I abnormal???Or Just another Irational Woman???Maybe both???




CINTA...Lima huruf dengan sejuta makna sejuta cerita. Terkadang aku bisa menjadi bodoh karena cinta, ya karena mencintaimu. Tapi aku tak pernah surut, meskipun harus menabur garam dalam luka yang menganga.

1.7.11

Khitanan dan Manusia

Khitanan… baru kali ini saya melihat secara langsung acara khitanan massal, mendengar suara jerit dan tangisan bocah-bocah di dalam ruangan yang saling menimpali satu sama lain. Cukup satu kali menyaksikan acara ini dan menyadarkan saya bahwa, kita seringkali menjalani hidup ini seperti bocah yang hendak dikhitan.
Di hadapan saya, seorang bocah sudah terlebih dahulu membanjiri wajahnya dengan tangisan sebelum masuk ke ruangan ‘eksekusi’, yang dengan berbagai cara sang ibu berusaha meredakan tangisannya, dan senjata pamungkasnya adalah “ayo jangan nangis, lihat itu ada hadiahnya kalau habis disunat” mendengar itu akhirnya sang bocah berusaha diam, walau tetap saja sesunggukan tak kunjung henti.

8.6.11

Kau Kata

Kau kata, "Aku bukanlah pelukis"
tapi kau menoreh kebahagiaan dalam duniaku
menyinggahi setiap sudut kanvasku dengan harapan
menjalari dengan warna-warna kerinduan
Kau kata, "Aku bukanlah penulis"
tapi kau semakin lihai menyihirku dalam aksara meratu
mencumbui setiap ronggaku dengan keindahan
melahirkan syair-syair bersayap yang membelai kecintaan

28.5.11

Just so Tired of Being Me


Ada banyak kebaikan ayah, yang dapat kita tiru, namun ada kalanya juga sang ayah mengecewakan kita

Bukan hanya mengecewakan, bahkan menyakiti, dan membuat diri kita tersiksa...

ingin marah, tapi kita kadang tak mampu berucap sepatah katapun
kita berada di posisi di mana kita tak menerima keadaan ini, namun semuanya hanya menjadi harta karun yang tersimpan aman dalam sebuah peti...

..........

Perempuan itu merasa kesepian walaupun nyatanya dia berada di tengah keramaian...

Kemanapun perempuan itu berlari, rasanya selalu saja "hujan" deras itu turun dan menghampirinya...

Ada kalanya dia bersembunyi, dan berteduh dari derasnya air "hujan",
tapi dia tetap merasa kedinginan

Ingin dia pergi dan berlari, mencari secercah sinar, yang kemudian akan memberinya harapan...

21.5.11

dia... (lelaki yang kembali)

"....dan lihatlah, Tuhan kembali memapaskan langkah kita... Mungkin Dia punya rencana??..."

Betapa nasib memang sudah ada garis edarnya, tak kasat mata. Ditelapakku, ditelapakmu tertulis ia. Karenanya aku tak heran, ketika disini, disebuah persimpangan lain kehidupan, tak sengaja kita beriringan. Kudapati kau lagi, lelaki. Masih dengan mata sorot mata itu dan senyum yang mampu melambatkan waktu....
Ahh... Tiba-tiba aku ingin tiap detik ini membeku.

18.5.11

Sableng ^_^

Bogor dini hari, 18 Mei 2011
Ketika cerita berjejal memenuhi rongga kosong dibilikmu
Mungkinkah masih ada potongan tempat untukku?
Sekedar mengetuk ruang kosong yang pernah kau sisakan untukku
Yang pernah kau janjikan akan tetap milikku

Ruangan yang pernah kita beri warna pelangi
Dengan mimpi dan harap yang kita gantung bersama
Disana….
Hingga akhirnya pelangi itu meluruh…
Dan kita berpisah, mencari pelangi berbeda


7.5.11

Lagi-lagi tentang Mereka

Ditemani hujan, Bogor 23 April 2011

Ada banyak hal yang kudapatkan dari mereka malam ini. Dari Adi, aku belajar secara langsung bertahan dari kehilangan, hal yang paling kutakuti. Di umurnya yang baru 10 tahun, ia telah kehilangan sang ayah, hanya ibu dan sang kakak yang menemani. Tapi jangan harap akan menemukan sendu di wajahnya, di kelas dia akan selalu ceria, tak kenal menyerah untuk menyelesaikan soal matematika yang kuberi dan semangat bermain ketika bertemu bola dan lapangan.

6.5.11

Inilah Mereka...


Pesan Tersirat dari Ibu Pemijat


Kemarin dapet jatah libur yang akhirnya dimanfaatin buat traditional massage plus luluran yang makan waktu ampe 3 jam.
Tukang mijetnya kebetulan punya indera ke enam gitu. Awalannya sih ngobrol basa-basi biasa aja, lama-lama nanya juga deh (lagi-lagi) tentang pacar...
cengar-cengir doank sayanyah..

4.5.11

Everything Will be Alright


"Aku lagi nyari cowok, kenalin sama siapa gitu, bantuin dong?" Request seorang teman via YM.

"Lah suamimu mau kau kemanakan?"

Mau dikardusin trus dikirim ke Timbuktu kali? Saya juga nggak tahu pasti. Menurut penuturannya sih dia pengen menyudahi dan ganti pasangan aja. *ini suami opo casing bb to?*

"Mbok ndak usah ganti, instal ulang ae nek error." *usul yang cukup absurd*

3.5.11

Jeda


Malam tadi, aku bertemu lagi dengannya, lelaki badai ku. Sungging di bibir yang aku rindu, seperti kopi yang kusesap tiap pagi, pahit cemas, namun tak sekalipun berasa ampas.

Seperti biasa, antara kami… diam adalah aksara sunyi yang paling bermakna. Dalam senyap entah kenapa, begitu gampang menjaring rindu yang bersarang dimanik-manik mata.

Kita bisu luar biasa.

Jeda antara kita terisi udara yang juga menahan lirihnya.

Katamu akhirnya “ketika kita hanya menjadi boneka, pemeran adegan yang sudah disutradarai sang Pemilik Jiwa”

Sorot matamu masih kelabu, sarat dengan pilu… masalalu. Hingga getir langkahmu, ragu pada setiap rindu… pun ketika memandang aku, wanita yang kau sebut “damaimu”

“….Bukankah cerita itu telah berakhir?? Haruskah luka itu selalu tertafsir???....

Dan aku memilih menjamahmu dengan sentuh, berharap semoga segala luka itu luruh. Di luar sana gelagat-gelagat gerimis pun runtuh.

Dingin ini memagut kita, merentangkan berkilo meter lagi jeda, walau tanganmu menaut memeluk pinggang, dan menarik kepalaku ke dada

Sayang… dendammu adalah jaraknya.

1.5.11

Ucapan terima kasih

Assalamu'alaikum warahmatullah.....


Ini mampir mau mengucapkan terima kasih buat mba rie ;)...makasih kiriman bukunya buat pasukan cilik, ahhh..rasanya seneng dapet kiriman buku ini, bukan apa-apa, saya habis mampir di gramedia hari ini dan woowwww...harga bukunya lumayan mahal kalau mau beli dalam jumlah banyak :((

terimaaaaaaa kasihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

28.4.11

I wrote it with my heart, not my word

Ok, gua ga tau apa yang gua rasain saat ini. Sedih ato seneng, ga tau... yang jelas. Belakangan ini galau? Memang.. gua rasa gua punya unfinished business sama dia.. dan beberapa bulan terakhir gua emang nyari FB dia. Salah?

Setelah gua nemuin FB dia, entah rasa apa yang ada di sebelah sini...

Sakit iya.

Seneng iya.

Tapi sedih juga.

Meninjau ulang hubungan kami di masa lalu yang kurang baik, membuat gua sedikit menyesal...

Sedikit sedih.

27.4.11

Dia

terbentuk ke segala arah

berada di mana saja,

dan tersentuh siapa saja

dialah yang tidak tertebak

26.4.11

a n n i v e r s a r y


Happy 

Go

Lucky

:)



25.4.11

absurd

mata terpejam otak menganga
tubuh terasa kaku tak berdaya
erangan demi erangan tidak terdengar
sesak atas entah
terus terasa tidak enak
tidak ingin terpejam hanya berdiam
apa itu , kumohon pergilah!

23.4.11

KUSUT!

Hai hallo… *hening*

Errr…saya gemes sama diri saya niyh. Niat menulis menggebu-gebu, namun apa daya saya tidak bisa menulis. Menulis seperti mereka-mereka yang jago nulis. Katanya kalo lagi ga bisa nulis, mampet, buntu yang konon katanya bernama writer's block, kita harus banyak membaca dan akan datang inspirasi. Memang sich. Tapi kok saya enggak ya. Saya malah keenakan membaca sampe males nulis. Akhirnya baca doank *ditamparbuku*. Lihat lapak saya disini saja mlompong. Padahal saya tahu banyaaak sekali yang merindukan saya. betul tidak??? *masih hening*

Celoteh dan Riuhnya

Aku tidak pernah dan insyaAllah tidak akan menyesal berada ditempat ini, disini saya belajar banyak hal dari mereka...yah mereka yang umurnya baru 10 tahun

20.4.11

Posting yang terlambat

Bogor, 05 Maret 2011

Ada yang menggeliat minta dilukiskan
Untuk jadi kepingan sejarah dimasa nanti
Sayang kuas yang kupunya tertinggal di lorong gelap
Hingga semua hanya menggumpal

Kutiti jalan menikung, coba cari warna terang
Bersama setitik cahaya kunang
Sebagai bekal melawan sunyi

14.4.11

Temu Kangen

Ini ceritanya lagi pengen merapatkan barisan (hmmm syukur-syukur kalo bisa rapat) jadi... setelah saya perhatikan aktifitas di ptw ini kok ya semakin menipis.... termasuk saya juga... maka dari itu... aaaaahhhhh... saya semakin berbelit belit... intinya pengen temu kangen aja sama penulis-penulis ptw...
ayo yooook kita conference YM bareng... Minggu malem gimana? Jam 8 malem gitu... saya tunggu... pokoknya tiada kesan tanpa kehadiranmu deh... yuk yaaaa....


*PS : yang kebetulan tahu undangan ini, mohon disampaikan sama saudara/i yang lain

13.4.11

Muara...


Warna pelangi luruh sore itu, di manik-manik matamu yang pilu dan meragu. Ahh, Kekasih hati, haruskah kutunggu lagi matahari esok pagi untuk bisa menempiaskan sedikit basah dan membangun pelangimu kembali??

Atau jika boleh izinkan aku cuma menjadi samudera, dunia tempatku berpapasan dengan semesta, memeluk topan dan juga murkanya. Di atasku ribuan bintang becermin tenang kala malam, dan kidung-kidung perahu nelayan yang lelah dalam setiap kayuhan, mendamba daratan.

“Lebih dari itu mereka tahu, aku selalu menunggumu sebagai sungai yang mengalir…. di muarakulah arusmu akan menemu akhir”

1.4.11

merapal...melarung...

kurapal mantra yang kucuri dari jantungnya, perempuan...
dan ku larung bersama daun-daun kering yang hanyut ditimang sungai
meningkahi saat hantu-hantu masa lalunya terlalap api lautan 

31.3.11

Hujan

1.42 AM

hujan lagi. deras. aku belum tidur. kau sedang apa? telfon? chatting? internet? tidur? rasanya sendu sekali sekarang. memikirkan orang yang belum tentu memikirkan kita. yaah, memang sih aku bukan satu-satunya yg merasa sendu di dunia ini … kau juga selalu merasakannya tiap pikirkan dia bukan?

tapi dia tidak baik untukmu.
dan aku sangat baik untukmu.

pede?
memang!
biar saja!

aku baik untukmu dan kau baik untukku.
kita cocok.
itu yang ku tahu.

well hey! we should hang out ya know!
_________________________
salam kenal kakak" PTW ^-^

30.3.11

Cantik itu putih....??? Putih itu cantik...??

"Kenapa pakai produk pemutih?"

"Ya biar putihlah, biar cantik?"

Saya tidak sedang ngomongin siapa-siapa. Saya lagi ngomongin diri saya sendiri. Apakah saya pernah tertarik dengan produk pemutih? Pastinya pernah.

"Kapan? Trus beli berapa kilo?" *emange semen*

24.3.11

Mereka

Ada kerinduan yang berdentang dipenghujung senja,
Rindu pada mereka…mereka yang tiap hari bertemu wajah
Mereka yang setiap pagi menyambut depan pintu kayu
Yang dengan menatap senyumnya hati ini dipenuhi bahagia

Senyum itu penuh arti,
Senyum yang berbeda
dengan senyum yang kami, dia, kita punyai
bahkan saya tak memiliki senyum itu

Ah mereka,
senja ini merindukannya
Padahal senja baru saja mengundurkan pertemuan
Dan esok mentari pun akan mengatur temu dengannya

Entah esok bertemu atau tidak, masih misteri
Milik Sang Penggenggam Nafas…
Tapi kuyakin, senyum mereka akan tetap menyambut pagi
Seperti mentari sejukkan alam

22.3.11

'Refugee'


Pernah nggak kalian berada di samping seorang “refugee”, duduk bersamanya serta mendengar kenapa dia bisa ada di negeri antah berantah yang begitu jauh dari tempat dia dilahirkan…??

“Kalau aku tidak pergi, bisa jadi aku sudah mati,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena aku perempuan dan berpendidikan tinggi. Temanku mati ditembak oleh rezim penguasa tepat di sebelahku ketika kami sedang berjalan beriringan. Beruntung aku lolos dari desingan peluru yang nyaris merenggut nyawaku. Karena aku perempuan maka aku harus diam di rumah. Melanggar pasti ada konsekuensinya.”

8.3.11

JFJB_2… (Tentang Kehilangannya)


“There are things…

That we don’t want to happen, but have to accept,

Things we don’t want to know, but have to learn,

And people that we think we cant live without, but have to let go”



Dan begitulah hidup. Ada hal-hal yang sangat ingin kita hindari namun akhirnya oleh Tuhan, kita ditakdirkan untuk berpapasan, bahkan mungkin berkenalan, mau tak mau, suka tak suka. Begitu juga ketika kita harus melepaskan seseorang yang telah menjadi bagian hidup kita dalam waktu tertentu, membiarkannya berlalu seumpama mengikatkan tali ke leher sendiri, mengencangkannya sampai tidak ada udara pada paru-paru yang harusnya terisi… tiba-tiba kau merasa mati.

Morning Humming


Kita punya banyak sekali mimpi, dan kita masih hanya bermimpi
Riang gembira walaupun hanya begini saja
Kita nikmati apapun yang membawa kita kesana
Suasana yang selalu kita impikan
Kehidupan yang kita idam – idamkan
Tanpa tergesa – gesa dan terus berusaha, semuanya kita bagi sama – sama
Aku sedih kamu rasa
Kamu senang aku juga rasa
Kamu, aku, kita sama-sama rasa
Dan hidup kita adalah tentang berbagi rasa



5.3.11

Sayang, ingatkah kau???



Sayang, ingatkah kau??? Kala itu kau berlari di sisiku. Kan menjajari langkah kecilku. Setiap kau merasa terlalu cepat dariku, kau akan memperlambat langkahmu. Kau bisa menambah kecepatan dan meninggalkanku jauh di belakang. Tapi, kau tak pernah melakukan itu. Kau terus berusaha memperkecil langkahmu dan terus berlari kecil di sisiku. Peluhmu memang tak sedahsyat peluhku. Menurutmu langkah kecilku hanya segelintir dari beban hidupmu. Namun, kau tetap tersenyum dan menyemangatiku.

4.3.11

Welcome home, Honey!!!



Merdu suaramu terus mengalun menyanyikan senandung lagu pop Melayu. Kau tahu bahwa aku begitu menyukai lirih suaramu yang berusaha berjinjit mencapai cengkok-cengkok rumit. Dan aku selalu tertawa melihat kau begitu berusaha menyenangkanku. Mungkin memang semua belum terlalu lama kita jalani. Hanya dalam hitungan bulan kusadari bahwa kau telah memenuhi sisi kosong hatiku dengan rindu yang terus membeludak. Tak ada lagi ungkapan "Rindumu tak sebanyak kerjaanku". Rinduku justru jauh melebihi kerjaanmu yang selalu menumpuk, sayang.

Anomali...


Hey, lelaki. Aku bukan wanita itu. Aku bukan dia... dia… dia… atau siapapun diantara para hawa yang pernah menyanding bahumu. Menggelayut manja di pundak kokohmu. Wanita dalam dongeng para dewi dan kisah para pujangga yang tergores dalam puisi.

Aku sedikit anomali, begitu aku menyebut diriku sendiri.

28.2.11

Doa mimpi...


Betapa aku menikmati setiap detik menunggui kau terlelap. Menikmati setiap helaan nafas di dadamu yang tenang. Menikmati sentuh-sentuh mimpi yang kadang memainkan ujung-ujung bibirmu. Kuciumi kau belahan jiwa, perlahan-lahan saat kau terlena sambil berdoa…

Mengejar waktu denganmu


waktu seakan tak pernah lelah mengejekku
menyisakan sekelumit kisah luka
teringatku kala dia berkata "wake up!! waktu takkan menunggumu karena dia terus berputar!!"
tapi kamu dengan sejuta sabar terus beriring berjalan di sisiku
tak kau hiraukan waktu yang terus berjalan
tak kau hiraukan waktu yang perlahan meninggalkanmu jauh
tak kau hiraukan sergapan geropohnya yang terus memuaikan fisikmu
tak kau hiraukan jalan panjang yang membentang

27.2.11

Rumah Kita

Mampukah kau lupakan kisah lalu?

Berjalan lurus tanpa menengok yang terlewat

Cukup berdiri dan berjalan disana, diujung jalan menikung

Tunggu aku menghampiri, menyambut apa yang kan terberi


Jika senyum itu lupa terbawa

Sertakan sepotong pengharap agar tangis tak perlu pecah

Hingga rumah yang tertinggal tetap berdiri

Walau rayap tak henti menggerogoti tiang


Lain hari kita susuri kenangan yang tertinggal

Bersama….

Berdirikan rumah yang hampir rubuh

Hias kembali dengan birunya senyuman...


24.2.11

Biarkan saja...


Berhentilah meresah hai Wanita. Bukankah janji itu seperti katanya, hanya tertunda? Bukan berarti tak ditepati, apalagi diingkari. Hanya beberapa waktu saja kau menunggu, bukan seumur hidupmu. Sementara itu, dalam nantimu yang tak akan panjang… kau bisa berjalan-jalan di ambang petang dengan kaki telanjang… merasakan basahnya rerumputan disela-sela jari kakimu yang jenjang. Atau kau bisa melambaikan telunjukmu, hingga kupu-kupu bersayap biru hinggap malu-malu.

23.2.11

aku kamu dan hujan


Riuh rendah suara angin menyapaku, disertai rinai-rinai bulir hujan... tengadahku melihat langit! Kelam... sejauh mata memandang tak ada satu pun kerlip bintang yang kutemui, dulu aku sangat menyukai saat-saat ini, dimana dirimu harus tertahan berada dalam pelukanku! Masih tergiang dalam benakku bagaimana manisnya kecupan yang kau berikan di keningku, lambaian tangan saat kamu beranjak pergi, saat itu aku masih berada di hati yang lain, tak pernah terpikir aku akan sangat merindukan saat-saat itu!

Lelaki malam...


Bola matamu umpama mata air yang tak pernah berhenti mengalir… hingga jika pun resah memanggang jiwa… aku tak pernah merasa dahaga.

Kamu lelaki malamku kini. Yang aku sesap suaranya saat malam mulai merangkak tinggi, bahkan terkadang sampai dinihari menyambangi bumi. Menjajari setiap perbincangan panjang kita, menghela mimpi… hingga membiarkan setiap aksara bersanding dengan kabut subuh hari, luruh di dedaunan dan suara ayam memekik nyaring di kejauhan. Kau memelukku yang terdiam, dan lalu kita sama-sama terpejam.

22.2.11

Sparkling...


Malam ini aku kembali berbincang-bincang… dengannya, lelakiku. Suaranya diseberang sana menyisipkan rindu. Merepihi asa yang tumbuh satu-persatu. Seperti ribuan kepakan sayap malaikat biru… mendendangkan lagu. Nada-nadanya asing… tak ada pembanding. Alam raya khidmat terpesona… terhenti gerak semesta… Seluruh jagad memandangi kita… berputar lambat dengan kita sebagai porosnya. Bintang-bintang jatuh malam itu memendarkan cahaya ragu, kemudian melipir malu… malu pada kilau rindu kita yang lebih terang dari ribuan cahaya bintang dijadikan satu…

“Lalu… adakah hal lain yang indah di dunia, bila yang terasa hanya ada kita dan berlapis-lapis cinta???”

21.2.11

The rains...


Aku selalu suka hujan, tanpa alasan. Entah kenapa… aku suka saja.
Ketika dia bertandang, aku kadang rela berlama-lama menyampir di jendela… berdetik-detik tanpa kedipan mata, memikirkan apa saja atau cuma sekedar mengosongkan isi kepala. Aku menikmatinya, menikmati setiap tetesnya yang jatuh di atas kelopak dahlia di samping jendela, menikmati tempiasnya di wajahku yang kadang… membuatku khidmat memejamkan mata.

Cotton Candy...


Seperti gula-gula kapas bermacam rupa. Sosokmu tidak bisa digambarkan hanya dengan satu warna. Kadang jingga kadang merah muda… atau bahkan saga menyala… tak cukup satu malam mengembarai jalan pikirmu dan segala kemungkinan tentang sosokmu. Mencecapi rasamu, menghindui wangimu di indera ciumku….
Ahhh… menikmati yang seperti itu… manis seperti dirimu.

Yang aku tahu hanya satu… seperti gula-gula kapas yang meleleh di mulutku…
Aku pasti menyukaimu…


(al)

20.2.11

Luka Dini Hari

Dusun Karangjati tidak pernah lagi sama. Tidak lagi memberi kedamaian pada sanubari Kanthi. Kepak kunang yang mengirim cahaya di gelap malam kehilangan terangnya. Nyanyi burung kedasih membawa pilu di setiap hentak napasnya. Kedamaiannya terkoyak sudah. Terkoyak ketika serombongan orang membawa orang tuanya pergi setelah terjadi huru-hura dini hari. Serombongan orang yang tak menoleh sejenak pun ketika dirinya bersimbah air mata menggapai tangan ibunya yang perlahan diseret menembus malam. Teriakan ayahnya yang semakin sayup ditelan senyap. Satu wajah yang dikenal Kanthi, wajah yang biasanya begitu bersahabat padanya, tetapi begitu beringas malam itu. Pakdhe Soekarjo.

Kanthi tidak pernah tahu apa yang terjadi pada orang tuanya. Hanya saja orang bilang mereka dibunuh dan mayatnya dihanyutkan ke sungai bersama puluhan tubuh-tubuh tak bernyawa lainnya. Orang bilang orang tuanya adalah pendukung haluan kiri yang ikut ditumpas setelah pertumpahan darah di sebuah kota berjarak ratusan kilometer dari Dusun Karangjati. Semuanya terlalu rumit bagi seorang Kanthi, di usianya yang ke-sepuluh tahun.

19.2.11

It's hard to say that I miss you...

Hai! Aku suka wajahnya yang terus menyapaku setiap hari...

Aku suka senyumnya yang mengembang indah di bibirnya


Aku juga suka tatapannya yang bergelora bagaikan panah asmara...
Aku suka...
Aku suka caranya mengerjaiku,
Aku suka caranya mengomel sepanjang hari...

Aku suka..
Suka sekaliii...