8.3.11

Morning Humming


Kita punya banyak sekali mimpi, dan kita masih hanya bermimpi
Riang gembira walaupun hanya begini saja
Kita nikmati apapun yang membawa kita kesana
Suasana yang selalu kita impikan
Kehidupan yang kita idam – idamkan
Tanpa tergesa – gesa dan terus berusaha, semuanya kita bagi sama – sama
Aku sedih kamu rasa
Kamu senang aku juga rasa
Kamu, aku, kita sama-sama rasa
Dan hidup kita adalah tentang berbagi rasa



5.3.11

Sayang, ingatkah kau???



Sayang, ingatkah kau??? Kala itu kau berlari di sisiku. Kan menjajari langkah kecilku. Setiap kau merasa terlalu cepat dariku, kau akan memperlambat langkahmu. Kau bisa menambah kecepatan dan meninggalkanku jauh di belakang. Tapi, kau tak pernah melakukan itu. Kau terus berusaha memperkecil langkahmu dan terus berlari kecil di sisiku. Peluhmu memang tak sedahsyat peluhku. Menurutmu langkah kecilku hanya segelintir dari beban hidupmu. Namun, kau tetap tersenyum dan menyemangatiku.

4.3.11

Welcome home, Honey!!!



Merdu suaramu terus mengalun menyanyikan senandung lagu pop Melayu. Kau tahu bahwa aku begitu menyukai lirih suaramu yang berusaha berjinjit mencapai cengkok-cengkok rumit. Dan aku selalu tertawa melihat kau begitu berusaha menyenangkanku. Mungkin memang semua belum terlalu lama kita jalani. Hanya dalam hitungan bulan kusadari bahwa kau telah memenuhi sisi kosong hatiku dengan rindu yang terus membeludak. Tak ada lagi ungkapan "Rindumu tak sebanyak kerjaanku". Rinduku justru jauh melebihi kerjaanmu yang selalu menumpuk, sayang.

Anomali...


Hey, lelaki. Aku bukan wanita itu. Aku bukan dia... dia… dia… atau siapapun diantara para hawa yang pernah menyanding bahumu. Menggelayut manja di pundak kokohmu. Wanita dalam dongeng para dewi dan kisah para pujangga yang tergores dalam puisi.

Aku sedikit anomali, begitu aku menyebut diriku sendiri.

28.2.11

Doa mimpi...


Betapa aku menikmati setiap detik menunggui kau terlelap. Menikmati setiap helaan nafas di dadamu yang tenang. Menikmati sentuh-sentuh mimpi yang kadang memainkan ujung-ujung bibirmu. Kuciumi kau belahan jiwa, perlahan-lahan saat kau terlena sambil berdoa…

Mengejar waktu denganmu


waktu seakan tak pernah lelah mengejekku
menyisakan sekelumit kisah luka
teringatku kala dia berkata "wake up!! waktu takkan menunggumu karena dia terus berputar!!"
tapi kamu dengan sejuta sabar terus beriring berjalan di sisiku
tak kau hiraukan waktu yang terus berjalan
tak kau hiraukan waktu yang perlahan meninggalkanmu jauh
tak kau hiraukan sergapan geropohnya yang terus memuaikan fisikmu
tak kau hiraukan jalan panjang yang membentang

27.2.11

Rumah Kita

Mampukah kau lupakan kisah lalu?

Berjalan lurus tanpa menengok yang terlewat

Cukup berdiri dan berjalan disana, diujung jalan menikung

Tunggu aku menghampiri, menyambut apa yang kan terberi


Jika senyum itu lupa terbawa

Sertakan sepotong pengharap agar tangis tak perlu pecah

Hingga rumah yang tertinggal tetap berdiri

Walau rayap tak henti menggerogoti tiang


Lain hari kita susuri kenangan yang tertinggal

Bersama….

Berdirikan rumah yang hampir rubuh

Hias kembali dengan birunya senyuman...


24.2.11

Biarkan saja...


Berhentilah meresah hai Wanita. Bukankah janji itu seperti katanya, hanya tertunda? Bukan berarti tak ditepati, apalagi diingkari. Hanya beberapa waktu saja kau menunggu, bukan seumur hidupmu. Sementara itu, dalam nantimu yang tak akan panjang… kau bisa berjalan-jalan di ambang petang dengan kaki telanjang… merasakan basahnya rerumputan disela-sela jari kakimu yang jenjang. Atau kau bisa melambaikan telunjukmu, hingga kupu-kupu bersayap biru hinggap malu-malu.

23.2.11

aku kamu dan hujan


Riuh rendah suara angin menyapaku, disertai rinai-rinai bulir hujan... tengadahku melihat langit! Kelam... sejauh mata memandang tak ada satu pun kerlip bintang yang kutemui, dulu aku sangat menyukai saat-saat ini, dimana dirimu harus tertahan berada dalam pelukanku! Masih tergiang dalam benakku bagaimana manisnya kecupan yang kau berikan di keningku, lambaian tangan saat kamu beranjak pergi, saat itu aku masih berada di hati yang lain, tak pernah terpikir aku akan sangat merindukan saat-saat itu!

Lelaki malam...


Bola matamu umpama mata air yang tak pernah berhenti mengalir… hingga jika pun resah memanggang jiwa… aku tak pernah merasa dahaga.

Kamu lelaki malamku kini. Yang aku sesap suaranya saat malam mulai merangkak tinggi, bahkan terkadang sampai dinihari menyambangi bumi. Menjajari setiap perbincangan panjang kita, menghela mimpi… hingga membiarkan setiap aksara bersanding dengan kabut subuh hari, luruh di dedaunan dan suara ayam memekik nyaring di kejauhan. Kau memelukku yang terdiam, dan lalu kita sama-sama terpejam.

22.2.11

Sparkling...


Malam ini aku kembali berbincang-bincang… dengannya, lelakiku. Suaranya diseberang sana menyisipkan rindu. Merepihi asa yang tumbuh satu-persatu. Seperti ribuan kepakan sayap malaikat biru… mendendangkan lagu. Nada-nadanya asing… tak ada pembanding. Alam raya khidmat terpesona… terhenti gerak semesta… Seluruh jagad memandangi kita… berputar lambat dengan kita sebagai porosnya. Bintang-bintang jatuh malam itu memendarkan cahaya ragu, kemudian melipir malu… malu pada kilau rindu kita yang lebih terang dari ribuan cahaya bintang dijadikan satu…

“Lalu… adakah hal lain yang indah di dunia, bila yang terasa hanya ada kita dan berlapis-lapis cinta???”

21.2.11

The rains...


Aku selalu suka hujan, tanpa alasan. Entah kenapa… aku suka saja.
Ketika dia bertandang, aku kadang rela berlama-lama menyampir di jendela… berdetik-detik tanpa kedipan mata, memikirkan apa saja atau cuma sekedar mengosongkan isi kepala. Aku menikmatinya, menikmati setiap tetesnya yang jatuh di atas kelopak dahlia di samping jendela, menikmati tempiasnya di wajahku yang kadang… membuatku khidmat memejamkan mata.

Cotton Candy...


Seperti gula-gula kapas bermacam rupa. Sosokmu tidak bisa digambarkan hanya dengan satu warna. Kadang jingga kadang merah muda… atau bahkan saga menyala… tak cukup satu malam mengembarai jalan pikirmu dan segala kemungkinan tentang sosokmu. Mencecapi rasamu, menghindui wangimu di indera ciumku….
Ahhh… menikmati yang seperti itu… manis seperti dirimu.

Yang aku tahu hanya satu… seperti gula-gula kapas yang meleleh di mulutku…
Aku pasti menyukaimu…


(al)

20.2.11

Luka Dini Hari

Dusun Karangjati tidak pernah lagi sama. Tidak lagi memberi kedamaian pada sanubari Kanthi. Kepak kunang yang mengirim cahaya di gelap malam kehilangan terangnya. Nyanyi burung kedasih membawa pilu di setiap hentak napasnya. Kedamaiannya terkoyak sudah. Terkoyak ketika serombongan orang membawa orang tuanya pergi setelah terjadi huru-hura dini hari. Serombongan orang yang tak menoleh sejenak pun ketika dirinya bersimbah air mata menggapai tangan ibunya yang perlahan diseret menembus malam. Teriakan ayahnya yang semakin sayup ditelan senyap. Satu wajah yang dikenal Kanthi, wajah yang biasanya begitu bersahabat padanya, tetapi begitu beringas malam itu. Pakdhe Soekarjo.

Kanthi tidak pernah tahu apa yang terjadi pada orang tuanya. Hanya saja orang bilang mereka dibunuh dan mayatnya dihanyutkan ke sungai bersama puluhan tubuh-tubuh tak bernyawa lainnya. Orang bilang orang tuanya adalah pendukung haluan kiri yang ikut ditumpas setelah pertumpahan darah di sebuah kota berjarak ratusan kilometer dari Dusun Karangjati. Semuanya terlalu rumit bagi seorang Kanthi, di usianya yang ke-sepuluh tahun.

19.2.11

It's hard to say that I miss you...

Hai! Aku suka wajahnya yang terus menyapaku setiap hari...

Aku suka senyumnya yang mengembang indah di bibirnya


Aku juga suka tatapannya yang bergelora bagaikan panah asmara...
Aku suka...
Aku suka caranya mengerjaiku,
Aku suka caranya mengomel sepanjang hari...

Aku suka..
Suka sekaliii...

Let it go...

biarkan hujan menghapus jejak langkahmu,
karena senyummu yang tersirat samar dari balik hujan..
dan aku terus menunggu,
menunggu hujan menghapus jejakmu,
namun, iya... hujan mungkin menghapus jejakmu di tanah ini...
tapi hujan di hati ini takkan pernah mampu menghapus jejakmu dalam hidupku...


karena aku terus menunggu,
sampai datangnya mentari...
diiringi senyum dan tawa langkah ceria...
dan aku terus menunggu pelangi,
pelangi yang indah dan melengkungkan senyummu...

17.2.11

Maaf Aku Lupa

1. Setting : Menjelang makan pagi

Suami : “Bau gosong apa ini??!! Lief, croissant-nya!!!” Suami tergopoh lari ke dapur
Istri : “Ooohhh nee, gosong dong” terbirit-birit menuju dapur dan…… telat. Croissant-nya sudah pada gosong di dalam oven.
Istri : Sorry, Lief, aku lupa.
*suami gigit jari karena tidak satupun yang masih bisa dimakan*


2. Setting : Selesai makan malam

Istri : “Mau minum apa, Lief? Teh atau kopi?”
Suami : “Koffie, alsjeblieft”
Istri membawa piring kotor ke dapur, membilasnya sebelum dimasukkan ke mesin cuci piring. Balik lagi ke ruang makan.
Suami : “Mana kopiku, Lief?”
Istri : “Oh God....sorry Lief….sorry, tunggu sebentar. Lupa”
Suami : #@$%^&*(!


Inikah Cinta???


Ini kisah tentang aku, dia dan cinta. Bagaimana pertama kali dia menggenggam tanganku??? Bagaimana dia pertama kali merangkulku??? Bagaimana dia pertama kali mengisi relung kosong hatiku???

Aku mengira mungkin semua berakhir setelah cinta meninggalkanku di awal Grey December kemarin. Aku merasa bahwa sudah tak sepantasnya aku bergaul dengan cinta lagi. Tapi ternyata tidak. Cinta tidak meninggalkanku sepenuhnya. Cinta hanya berlibur dan istirahat sejenak dari rutinitas kehidupanku yang tak mengenal logika ini.


16.2.11

Membunuh bintang...


Kau tidak tahu, Cinta, aku pernah melarung luka dalam lautan tanpa dermaga, aku bahkan membunuh bintang utara dan segala rasi di semesta, membuang segala petunjuk dan tanda. Hingga bila saat luka itu ingin kembali bersua, saat dia menatap ke angkasa, dia tak akan menemukan apa-apa kecuali gulita… Doaku semoga dia tak pernah menemukan jalan pulangnya…

“Dan kau, Cinta, serupa bintang yang paling terang… suatu saat jika kau benar bertandang... jangan bawa serta luka itu datang”

Percakapan embun...


Ah... Aku selalu suka menggambarkan malam sebagai tempat percakapan kita bermula, dengan ribuan kerlip bintang di angkasa, dengan awan-awan kelabu tempat menguraikan banyak cerita. Mengeksplorasi rasa dan merepihi setapak asing hatimu lewat suara… menyerap semua tawamu di seberang sana sambil mengisahkan tentang hujan atau berdebat tentang benda langit yang paling terang.

“Waktu terhenti dan percakapan kita membungai mimpi… menyesapi pada embun dini hari…”
(al)

Just Eve


Seumpama malaikat dengan sayap hitam berpijar terang, kegelapan langit menjadi takhtanya. Singgasana tempatnya bercumbu dengan bulan, bintang dan juga semesta. Dari badai di Utara samudera… hingga ke angin semilir di pucuk-pucuk akasia… Terkesima… Menggantikan lagu-lagu malam dengan syair merdu, suaranya melambatkan sang waktu.

Bila badai pun tertunduk dalam pesonanya,
apalagi aku yang hanya seorang hawa… perlahan-lahan terbunuh damba… 

(al)

7.2.11

Al... The Black Angel


Senyumnya… melunglaikan angkasa, membuat pelangi memudar dengan pesona. Tak cukup aksara melukiskan dirinya…. Hingga riap gerimis berdesir kepayang, mabuk dalam kagum yang menghempas sekuat gelombang, menyesakkan nafas dalam rindu meresah, gelisah. Bintang bersinar di atas kepalanya, membayang sesosok malaikat dengan sayap hitam bermata sempurna. Semoga hatinya sebaik wajahnya.

Ahh.. tahukah kau teman, lelaki ini sungguh memabukkan… 

Riza

Namanya Riza, siswa SMART Ekselensia yang saya kenal secara tidak langsung karena berasal dari daerah yang sama setelah ditakdirkan berada di Bogor, hadir dengan logat Makassarnya yang masih kental, membuat saya dan kawan yang lainnya merindukan kampung halaman. Senyum khas dan tubuh kurang gemuk, jika tak ingin dikatakan cenderung kurus, menyedot perhatian selama jam makan malam. Menatapi dengan seksama cara makannya, menu yang tersaji di piringnya yang kekurangan satu menu karena keterlambatan antrian, mengingatkan adik terkecil saya yang terbiasa makan walau tanpa sayur.

3.2.11

Fokus

Ada yang bertanya pada saya, menanggapi perspektif saya tentang talenta: "bagaimana mengenali kemampuan saya sesungguhnya? Bagaimana mengetahui apa talenta saya sebenarnya?"

Saya pernah menuliskan tentang hal ini sebelumnya. Bahwa saya tidak mempunyai bakat untuk membedakan dan merasakan setiap detail rasa dalam sebuah masakan. Walau kenyataannya saya suka makan, tapi saat disuruh mencicipi berbagai macam kue atau makanan yang sejenis; jika rasanya masih dalam toleransi lidah saya, maka semuanya akan terasa sama saja. Jadi misalnya ada tawaran dari pihak Transcorp untuk menggantikan pak Bondan di acara 'Wisata Kuliner', saya akan menolaknya.

********/*******

Bagaimana mengetahui apa talenta Anda sebenarnya? Bagaimana mengenali kemampuan Anda sesungguhnya? Anda akan tahu jawabannya saat mengerjakan sesuatu yang Anda suka dan membuat Anda bahagia saat melakukannya. Bahkan Anda selalu berusaha meningkatkan kemampuan Anda di bidang tersebut.

29.1.11

Kerabat Bangsa

Kerabat...

Katanya kita kerabat

Dia bilang kita saudara

Mereka bilang kita satu rasa…

Saya permisi… undur dari semua anggap

22.1.11

tanya hati


kali ini kebodohan apalagi yang kubuat? selalu saja menuruti hasrat hatiku.. tanpa memikirkan apa ini sudah wajar? apa ini bukan hanya menjadi angin lalu? semakin hatiku berkeras, semakin banyak goresan-goresan kecil tak terlihat mengubah raut wajah manis itu menjadi bisu. dalam setiap sujudku.. aku memohon.. meminta dengan berurai linangan air mata.. kenapa harus jadi seperti ini? bukank-ah aku sudah bilang pada-Mu? Jangan buat aku terpesona jika itu takkan menjadi milikku! aku sadar aku begitu egois. mungkin ini cara-Mu membalasku.. duniaku dulu tak begini. kenapa tak Kau biarkan saja aku sendiri dalam luka-lukaku? kenapa dia Kau datangkan untuk menghiburku, setelah itu Kau ambil dia kembali? entah harus bagaimana aku menyusun puing-puing kehancuranku ini. mengayamnya menjadi satu lagi..


21.1.11

tentang aku

aku mencoba....
sungguh aku mencoba...
melupakan sentuhan lembut dan senyuman manis itu...
dalam gelapku aku tertatih melangkah...
namun sayang.. sekali lagi aku terjatuh...
aku percaya...
sungguh aku percaya...ini kebaikan untukmu dan untukku...
selalu ada pagi yang cerah setelah malam kelabu...
aku tahu...
sungguh aku tau...
senyummu jauh lebih manis saat tiada lagi bayangku...
tapi aku terlalu lemah untuk berlari...
aku belum mampu berdiri sendiri...
tolong beri sedikit aku waktu....
waktu untuk mengadu rindu...

20.1.11

Apa Senjatamu?

Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik.

Seorang samurai yang hanya bersenjatakan tanto -pisau pendek-, dan terpaksa berhadapan dengan musuh bersenjatakan katana -pedang maut-, tidak boleh menyesalkan senjata yang sedang dipegangnya. Itu tabu!

Menyesali senjata yang ada di tangan, adalah ratapan pasti menuju kekalahan. Yang sudah ada pada Anda adalah senjata penyelamat dan penghebat kehidupan Anda.

Bersyukurlah. Dan hebatkan diri Anda!

~Mario Teguh~

penyesalan quw

Semua kata-kata ini takkan mampu menjelaskan betapa menyesalnya aku.. dulu kamu selalu ada saat aku terluka dan tertawa, dulu aku ga pernah peduli kamu ada ataupun tidak, saat kamu memberikan hidup dan hatimu hanya untukku!! Saat kamu tak pernah pergi dari sisiku sepanjang waktu.. km bilang kamu ga akan membiarkan aku merasa sendiri lagi.. saat km menceriakan hari-hariku yang kelam karenanya!! Kamu selalu bilang betapa kamu mencintaiku dan menginginkanku lebih dari apapun.. kamu bahkan rela menjadi yang kedua.. tapi aku terlalu buta dengan cintanya.. cinta yang maya untukku!! Cinta yang dipenuhi mimpi-mimpi indah palsu... dan kamu selalu mencoba membuatku sadar, tapi aku tak pernah sadar sampai akhirnya kamu menyerah dengan semua perjuangan dan pengorbanan yang telah kamu lakukan untukku!!

13.1.11

entah apa namanya


numpang curhat yee...


pagi ini saya mau ke kampus...
dan kendaraan yang saya pakai itu adalah sebuah motor yang udah cukup jadul *ala sanchai di meteor garden banget*

beberapa km dari rumah saya tiba-tiba turunlah tetesan-tetesan air
saya pikir cuma gerimis biasa
masa badan segede saya takut sama gerimis??
akhirnya saya memutuskan untuk gak pake jas hujan yang ngeribetin itu

12.1.11

Galau


Kenapa semuanya seperti terasa masam, pahit bahkan jika aku mengingat – ingat tentang sebagian dari diriku yang lain. Sebagian itu tidak tahu menahu tentang sesuatu di sebagian yang lain dan berharap yang tidak aku harapkan pada diriku. Seperti utara dan selatan yang tidak mungkin bertemu, air dan minyak yang tidak mungkin menyatu.

11.1.11

Lonely Moon


Selelah bulan yang bersinar di akhir malam… terangnya hampir binasa, meredup dalam keluasan semesta.

Percakapan di 11111

Klak.. klik.. klak.. klik..
Daritadi nge-klik nge-klik dan ga jelas. Padahal ada banyak bahan materi tentang ujian yang harus dibaca.
Dan sekarang di 11111 dengan mata yang sedikit lelah karena kebanyakan tidur dan kebanyakan melek, saya mau numpang coret - coret disini. Boleh kan yah? Boleh dong.
Tahu tidak punggung dan bahu saya sudah seperti kaku karena daritadi mematung di depan sini, layar 14 inch ini. Baru bahu yang kaku udah protes, gimana kalo seluruh tubuhmu yang kaku lalu membiru?
Anyway, dini hari begini membicarakan tentang kaku dan membiru seperti tiba - tiba bergidik.
Tragis kalo kata 'efek rumah kaca'.

10.1.11

bisikan itu ..

masalah selalu datang ..
setiap hari.. bahkan setiap saat ..
menyedihkan sekali jika mesti waspada setiap saat,
menyedihkan sekali menatap ke kiri dan kanan bergantian secara rutin .. waspada ..

tidak ada orang yang dapat menolong
bahkan harapan sepertinya sudah memudar
dan seolah-olah Tuhan pun tidak menampakkan diri.
kemanakah aku harus meminta pertolongan?
orang terdekat pun membisu
betapa malang nasibku

Kabar Kabur

Huuuuaaah

Ngos-ngosan

Beberapa kali mencoba lari dari syuting striping Cinta Fitri yang lagi pindah stasiun televisi memang susah sekali, karena banyak barang-barang yang perlu diangkut-angkut, akhirnya saya dapet kesempatan libur (jadi artis ato kuli angkut sih?) #simpulkan sendiri

Rindu menuliskan sesuatu disini, dan akhirnya punya kesempatan untuk memberi kabar bahwa saya tidak sedang dekat dengan Irfan Bachdim, sungguh.

8.1.11

PULANG

Rumah. Ada banyak hal yang selalu bisa aku kenang dari rumah joglo dimana aku dibesarkan. Pringgitan, dimana aku dulu berlatih menari golek bersama teman-teman precilku menjelang pentas Agustusan. Dhelikan dan memanfaatkan salah satu tiangnya sebagai pal-nya. Bekelan, congklak, tak lupa rujakan diatas lincak bambu di bawah pohon jambu. Betengan dan kasti adalah permainan yang paling kugemari saat itu. Panas terik tak pernah menghentikan kami, anak-anak yang tidak pernah khawatir kulit jadi gosong terpapar mentari. Maklum kami belum jadi remaja puber yang punya jadwal creambath dan luluran penghalau daki.

Menulis ala William Forrester

Suatu hari di sebuah ruangan HRD.

Setelah menutup map yang berisi beberapa lembar kertas yang berisi surat lamaran, CV, dan portofolio; dia berkata pada wanita yang duduk di hadapannya. "Kami membutuhkan seorang penulis. Orang yang bisa menulis setiap hari, bahkan mungkin setiap jam. Anda bisa melakukannya?"

Dengan yakin wanita itu berkata, "bisa. Saya yakin bisa."

"Apa yang Anda tulis setiap harinya?" Tanya staf HRD kemudian.

"Setiap hari saya selalu update 'news feed' di facebook, dan setiap jam saya update status di twitter." Katanya dengan mantab.

********/*******

Sekedar Mampir dan Menyapa

Haiiiiiiiiiiiii semuanya.....asli kangen nulis, nyampah, rusuh, jail dan belajar linggis lagi... tapi beneran saya udah gak mungkin lagi buat nemu lapie, apalagi koneksi selama beberapa bulan kedepan sengihnampakgigi serasa ada yang hilang sih iya, tapi ini adalah konsekuensi pilihan saya, jadi yah... mariii kita jalani dengan perasaan senang sengihnampakgigi

Cerita tentang keadaannya nanti disini InsyaAllah, nanti ketika udah ada waktu saya bakal posting... tapi berhubung sekarang waktunya ini juga saya nyuri-nyuri jadi gak bisa cerita banyak.

smilears

akal-akalan
bayangan
jalan yang tertempuh tanpa landasan
senyuman yang terpancar di akhiran
walau ada tangisan di awalan

7.1.11

Tentang Hidup

Hidup itu selalu menuju sesuatu. Dulu ketika kamu kecil, kamu selalu ingin cepat-cepat besar dan dewasa, bisa melakukan semua hal yang dilakukan oleh orang-orang dewasa. Ketika kamu sekolah, kamu ingin cepat-cepat bisa merasakan gimana jadi mahasiswa. Ketika kamu kuliah, kamu ingin cepat lulus dan bisa bekerja. Ketika kamu mendapatkan pekerjaan A, kemudian kamu menginginkan pekerjaan B. Dulu ketika kamu tidak punya pacar, kamu ingin punya pacar. Setelah punya pacar, kamu ingin menikah, dan seterusnya, dan seterusnya. Dan satu-satunya yang bisa kamu lakukan adalah ikut berjalan menuju sesuatu itu.

Abu - Abu

Batin dan Akal
Vertikal dan Horizontal
Benar dan Salah
Aturan dan Kebebasan
Kekejaman dan Belas Kasih
Individu dan Kelompok
Keyakinan dan Kebahagiaan

Kemelut .. Semuanya bergumul.
Cepat kembali atau terus mencari?
Tidak tahu .

fallin in lope

Entah bagaimana melukiskan perasaan saya

Rasanya seperti ingin menari di awan

Dan kemudian menyanyikan lagi cinta di atas pelangi


6.1.11

tingtong

sebuah proses panjang yang diiringi derap langkah tertatih-tatih
menyiratkan sebuah hasrat untuk kembali
berharap kepada sesuatu yang pasti
dan tidak tinggal di dalam ketidak pastian

yang ada hanya pekatnya sinar
yang kemudian tenggelam ditelan gelap
yang ada hanyalah lara
yang tersembunyi di dalam duka
hanya senyum yang merana
terselubung di dalam cerita

dan kini aku berjalan
berat dan tertatih-tatih
hanya dengan harapan menemukan sebuah kepastian...

2.1.11

Jangan Salahkan Sahabatku!!!!

31.12.10

Kembang Api

Hari terakhir di tahun 2010. Di tempat saya pergantian tahunnya masih 8 jam lagi. Tapi ini kok ya precil-precil disini sudah mulai dhar dher dhor nyalain kembang api. Ya untungnya saya ndak punya penyakit jantung, tapi yang namanya kaget tetap saja. Wong lagi enak-enaknya ngalamun di jendela sambil ngamatin anjing yang lagi guling-gulingan di salju, lha kok mendadak "Dhooorr." Kembang api yang dengan semena-mena membuat saya kaget. Ealah bocah, masih terang begini nyalain kembang api. Gek opo yo ketok tho. Dhor, byar...kerlip trus hilang, dan “dhor” itu yang bikin saya njenggirat. Nanti kalau sudah gelap, lak lebih indah. Saya jadi ngunandika sendiri.

Meski sudah tahu kalau precil-precil disini sibuk dengan kembang apinya, kagetnya saya kok ya masih terulang juga. Waktu lagi jumpalitan masak, lha kok ada lagi “dhor”, dan TKP nya cuma selemparan batu dari dapur. “Godverdomme” Spontan saya mengumpat. Untungnya wajan masih tergenggam erat di tangan saya dan tidak melayang keluar dapur. Lama kelamaan, saya pun pasrah pada keadaan. Ikut menikmati dhar dher dhor kembang api. Padahal asli, saya hanya dengar “dhor”nya. Kerlap-kerlip kembang apinya ndak kelihatan. Nanti kalau langit sudah gelap, kembang apinya akan nampak lebih terang.
Selamat Tahun Baru 2011. Happy New Year. Gelukkig Nieuwjaar.

Happy New Year

Ngomongin tentang taun baru, otak langsung nyaut ke resolusi setahun ke depan. Target-target yang pengen dicapai. Tahun ini, nggak ada resolusi baru buat aku. Karena sebenernya udah aku jamak di resolusi dua tahun kemaren hehe... Intinya seh mo fokus sama kerjaan dan nggak mikir pacaran. Lah ndalah... kok ya ada aja godaan. Akhirnya mutusin buat nyoba pacaran aja. Tapi kok malah amburadul semua resolusiku ckckck... Makanya taun depan ini mo ngelurusin niat... pokoke kudu fokus sama karir dulu biar bisa pensiun di usia muda... khan cihuy tuh hehe...

Nah... apa resolusi kalian taun ini?

25.12.10

Namanya Irgi........




Namanya Irgi. Aku mengenalnya di dunia maya. Saat kami berkenalan di dunia maya, aku masih duduk di bangku SMU dan dia sedang berkuliah di universitas di Bogor, semester akhir. Ya..ya.. aku berbohong soal umurku, aku berkata padanya kalau aku sudah berkuliah. Tak tahu kenapa aku harus berbohong seperti itu. Sampai sekarang pun aku masih tak tahu alasannya kenapa aku harus berbohong soal umurku.

Namanya Irgi. Kita saling bertukar no telfon dan saling bertukar foto. Malam itu dia menelfonku, kita berbincang-bincang. Aku suka suaranya, renyah. Kau tahu, itu mungkin pertama kalinya aku jatuh cinta.

22.12.10

Ibu, Aku Butuh Kasih Sayangmu

Sejatinya seorang ibu adalah pilar terdepan dalam membina generasi muda penerus bangsa. Beliaulah yang menjadi ujung tombak dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran, etika dan moral kepada putra-putrinya, dengan tidak mengesampingkan sang ayah maupun lingkungannya. Kata pepatah: Surga di telapak kaki ibu, yang menunjukkan betapa mulianya seorang ibu dibandingkan yang lain.

Pengumuman Pemenang Surat untuk Ibu

Sebelumnya, pengelola mengucapkan selamat hari ibu. Dan terima kasih sebesarnya pada partisipan lomba ini. Sesuai janji, saya akan umumkan pemenang lomba hari ini. Tanpa panjang lebar, pemenangnya adalah saudari Fitri Gendrowati. Pada saudari Fitri harap mengirimkan alamat lengkap kepada e-mail pengelola untuk mengirimkan hadiah. Berikut adalah surat yang terpilih :


20.12.10

Meracik Mimpi

aku telanjang
menatap langit

dalam gelap
yang kudamba

bersembunyi
diantara helai awan

malu-malu
dari kedipan bintang

meracik bunga
untuk damai tidurmu

Ruam Rindu


siapa yang akan mengirim ribuan kata
lewat malam dan desiran angin
telah biru tulangku
ruam membekas karena rindu
ada lagikah nyanyian pagi
yang akan menjemput tangis malamku
yang masih kusisakan
dalam seonggok tissue basah laraku

17.12.10

Dunia Plastik

Pagi hari, Anda belanja dan diberi kantong plastik oleh penjual di pasar. Gratis. Apakah Anda lalu akan berpikir untuk membawa tas belanja dari rumah?
Siang hari, Anda beli makanan di warung dan ditaruh di kantong plastik oleh penjaga warung. Gratis. Apakah Anda lalu akan berpikir untuk membawa tempat makanan sendiri dari rumah?
Malam hari, Anda pergi ke toko buku dan diberi kantong plastik oleh kasir. Gratis. Apakah Anda lalu akan berpikir untuk membawa tas punggung dari rumah?

Kantong plastik biasanya memang disediakan gratis dimana-mana. Di sebagian besar tempat jual beli barang. Fasilitas untuk pelanggan. Dengan hal ini kita sebagai pelanggan, merasa tidak perlu repot memikirkan cara untuk membawa belanjaan, makanan, atau tempat untuk menaruh barang-barang. Tetapi pernahkah kita berpikir: jika setiap hari kita menggunakan kantong plastik baru, atau membeli produk berbahan dasar plastik, bukankah jumlah plastik di dunia ini akan terus bertambah jumlahnya?

16.12.10

Lomba Menulis Surat untuk Ibu

Untuk memperingati hari ibu yang akan jatuh di bulan ini, Pensil Tanpa Warna mengadakan lomba menulis surat untuk ibu. Naskah surat harap dikirim ke : pengelolapw@gmail.com. Batas waktu pengirim sampai tanggal 19 Desember 2010. Dan pemenang akan diumumkan pada tanggal 22 Desember 2010. Lomba ini terbuka untuk umum. Satu karya terbaik pilihan pengelola akan mendapatkan hadiah berupa buku :
  • Rahim karya Fadh Djibran
  • The Happiness Project karya Gretchen Rubin
  • A Thousand Splendid Suns karya Khaled Hosseini

Curcol ajah deee

Hum... baru bisa nulis lagi sekarang.

Setelah minggu kemaren mengalami hal-hal yang diluar dugaan dan membuat tanggul pertahanan saya jebol.

Saya tau, kemarin, hari ini, besok ataupun kapan, pasti semuanya akan terjadi.

Ada perjumpaan pasti ada perpisahan, berat memang melepas teman saya (lelaki, lebih muda 3 tahun, sudah seperti adik sendiri) yang kebetulan partner kerja saya, pergi merajut asa. Tapi alangkah egoisnya saya jika saya memberati langkahnya.

Satu hari sebelum dia pergi, kami (5 orang termasuk saya) memutuskan untuk sekedar bersenang-senang, have fun bareng, melewati hari itu dengan suka ria. Saya sudah berjanji takkan ada gerimis hari itu, yang ada hanya kehangatan mentari saja.


^racauan sableng^

Sekedar ingin mampir di rumah ini dan bilang kangen hehehe... ada saat dimana saya kadang merasa lebih mudah menerima dan memahami segala kejadian yang melewati dan mampir di hidup saya dengan lapang, menerima bahwa semuanya adalah takdir Allah, menerima bahwa semua sudah digariskan... tapi saya ternyata masih belum cukup kuat ketika harus berhadapan dengan kekecewaan orang-orang terdekat saya atas harapan yang mereka titipkan pada saya, dan lebih sulit menghadapi kekecewaan mereka dibanding berdamai dengan takdir.

Semalem rada sableng ketika sms temen saya "B**** punya tempat menghilang gak?? sepertinya saya butuh tempat menghilang" dan dengan belengnya yang gak ngerti saya kenapa cuma bales "maksudnya??" Rasanya pengen jitak-jitak dia, tapi saya balasnya "punya waktu gak, saya butuh temen sms-an" well, lumayanlah bisa sedikit senyam-senyum baca smsnya... alhamdulillah saya masih beruntung punya 'tempat berlari,' walaupun dia tidak tahu saya 'lari' dari apa.

Jadi teringat sebuah kalimat linggis yang pernah ditulisin temen saya di buku saya "sometimes we need to share our problem with friend, it will be make you fell better...don't keep that alone"

Sudahlah... saya hanya ingin mampir bilang maap ama guru linggis saya, bolos belajar beberapa hari.

Seribu Warna Tanpa Makna


Setinggi apapun langit digapai
jangan lupa jejakkan kaki di lantai
karena keindahan mata
terkadang hanyalah fatamorgana

Sesungguhnya
pelangi jingga pun mempesona
namun segera sirna berganti sinar surya
terdampar samar di kaki kemilau langit

Kepongahan tak akan bertahan
sebab hidup tak selamanya bertahta
kadang berputar berganti arah
ke atas kau akan meraja
ke bawah raja menjadi hamba
tak akan ada yang fana
karena langit selalu berganti rona

Merendahlah
takkan membuatmu menjadi hamba
berlapang dada lah
karena ikhlas itu indah
sebab putih hati lebih mulia
dibanding seribu warna tanpa makna

Optimalisasi Imajinasi


Mari memejamkan mata sejenak
Menari di dalam gelap
Ikuti irama pelan, bergerak perlahan
Hirup udara segar, seakan – akan terbang
Terus berpejam
Semakin meninggi, tinggi – tinggi sekali
Berputar – putar , berlenggang gemulai
Terus, rasakan angin berhembus
Lihat, gelap menghilang
Nikmati warna – warna cerah
Nikmati suasana indah
Perlahan - lahan
Terus berlenggang dengan gemulai
Sampai





..kau membuka mata