21.2.11

The rains...


Aku selalu suka hujan, tanpa alasan. Entah kenapa… aku suka saja.
Ketika dia bertandang, aku kadang rela berlama-lama menyampir di jendela… berdetik-detik tanpa kedipan mata, memikirkan apa saja atau cuma sekedar mengosongkan isi kepala. Aku menikmatinya, menikmati setiap tetesnya yang jatuh di atas kelopak dahlia di samping jendela, menikmati tempiasnya di wajahku yang kadang… membuatku khidmat memejamkan mata.

Cotton Candy...


Seperti gula-gula kapas bermacam rupa. Sosokmu tidak bisa digambarkan hanya dengan satu warna. Kadang jingga kadang merah muda… atau bahkan saga menyala… tak cukup satu malam mengembarai jalan pikirmu dan segala kemungkinan tentang sosokmu. Mencecapi rasamu, menghindui wangimu di indera ciumku….
Ahhh… menikmati yang seperti itu… manis seperti dirimu.

Yang aku tahu hanya satu… seperti gula-gula kapas yang meleleh di mulutku…
Aku pasti menyukaimu…


(al)

20.2.11

Luka Dini Hari

Dusun Karangjati tidak pernah lagi sama. Tidak lagi memberi kedamaian pada sanubari Kanthi. Kepak kunang yang mengirim cahaya di gelap malam kehilangan terangnya. Nyanyi burung kedasih membawa pilu di setiap hentak napasnya. Kedamaiannya terkoyak sudah. Terkoyak ketika serombongan orang membawa orang tuanya pergi setelah terjadi huru-hura dini hari. Serombongan orang yang tak menoleh sejenak pun ketika dirinya bersimbah air mata menggapai tangan ibunya yang perlahan diseret menembus malam. Teriakan ayahnya yang semakin sayup ditelan senyap. Satu wajah yang dikenal Kanthi, wajah yang biasanya begitu bersahabat padanya, tetapi begitu beringas malam itu. Pakdhe Soekarjo.

Kanthi tidak pernah tahu apa yang terjadi pada orang tuanya. Hanya saja orang bilang mereka dibunuh dan mayatnya dihanyutkan ke sungai bersama puluhan tubuh-tubuh tak bernyawa lainnya. Orang bilang orang tuanya adalah pendukung haluan kiri yang ikut ditumpas setelah pertumpahan darah di sebuah kota berjarak ratusan kilometer dari Dusun Karangjati. Semuanya terlalu rumit bagi seorang Kanthi, di usianya yang ke-sepuluh tahun.

19.2.11

It's hard to say that I miss you...

Hai! Aku suka wajahnya yang terus menyapaku setiap hari...

Aku suka senyumnya yang mengembang indah di bibirnya


Aku juga suka tatapannya yang bergelora bagaikan panah asmara...
Aku suka...
Aku suka caranya mengerjaiku,
Aku suka caranya mengomel sepanjang hari...

Aku suka..
Suka sekaliii...

Let it go...

biarkan hujan menghapus jejak langkahmu,
karena senyummu yang tersirat samar dari balik hujan..
dan aku terus menunggu,
menunggu hujan menghapus jejakmu,
namun, iya... hujan mungkin menghapus jejakmu di tanah ini...
tapi hujan di hati ini takkan pernah mampu menghapus jejakmu dalam hidupku...


karena aku terus menunggu,
sampai datangnya mentari...
diiringi senyum dan tawa langkah ceria...
dan aku terus menunggu pelangi,
pelangi yang indah dan melengkungkan senyummu...

17.2.11

Maaf Aku Lupa

1. Setting : Menjelang makan pagi

Suami : “Bau gosong apa ini??!! Lief, croissant-nya!!!” Suami tergopoh lari ke dapur
Istri : “Ooohhh nee, gosong dong” terbirit-birit menuju dapur dan…… telat. Croissant-nya sudah pada gosong di dalam oven.
Istri : Sorry, Lief, aku lupa.
*suami gigit jari karena tidak satupun yang masih bisa dimakan*


2. Setting : Selesai makan malam

Istri : “Mau minum apa, Lief? Teh atau kopi?”
Suami : “Koffie, alsjeblieft”
Istri membawa piring kotor ke dapur, membilasnya sebelum dimasukkan ke mesin cuci piring. Balik lagi ke ruang makan.
Suami : “Mana kopiku, Lief?”
Istri : “Oh God....sorry Lief….sorry, tunggu sebentar. Lupa”
Suami : #@$%^&*(!


Inikah Cinta???


Ini kisah tentang aku, dia dan cinta. Bagaimana pertama kali dia menggenggam tanganku??? Bagaimana dia pertama kali merangkulku??? Bagaimana dia pertama kali mengisi relung kosong hatiku???

Aku mengira mungkin semua berakhir setelah cinta meninggalkanku di awal Grey December kemarin. Aku merasa bahwa sudah tak sepantasnya aku bergaul dengan cinta lagi. Tapi ternyata tidak. Cinta tidak meninggalkanku sepenuhnya. Cinta hanya berlibur dan istirahat sejenak dari rutinitas kehidupanku yang tak mengenal logika ini.


16.2.11

Membunuh bintang...


Kau tidak tahu, Cinta, aku pernah melarung luka dalam lautan tanpa dermaga, aku bahkan membunuh bintang utara dan segala rasi di semesta, membuang segala petunjuk dan tanda. Hingga bila saat luka itu ingin kembali bersua, saat dia menatap ke angkasa, dia tak akan menemukan apa-apa kecuali gulita… Doaku semoga dia tak pernah menemukan jalan pulangnya…

“Dan kau, Cinta, serupa bintang yang paling terang… suatu saat jika kau benar bertandang... jangan bawa serta luka itu datang”

Percakapan embun...


Ah... Aku selalu suka menggambarkan malam sebagai tempat percakapan kita bermula, dengan ribuan kerlip bintang di angkasa, dengan awan-awan kelabu tempat menguraikan banyak cerita. Mengeksplorasi rasa dan merepihi setapak asing hatimu lewat suara… menyerap semua tawamu di seberang sana sambil mengisahkan tentang hujan atau berdebat tentang benda langit yang paling terang.

“Waktu terhenti dan percakapan kita membungai mimpi… menyesapi pada embun dini hari…”
(al)

Just Eve


Seumpama malaikat dengan sayap hitam berpijar terang, kegelapan langit menjadi takhtanya. Singgasana tempatnya bercumbu dengan bulan, bintang dan juga semesta. Dari badai di Utara samudera… hingga ke angin semilir di pucuk-pucuk akasia… Terkesima… Menggantikan lagu-lagu malam dengan syair merdu, suaranya melambatkan sang waktu.

Bila badai pun tertunduk dalam pesonanya,
apalagi aku yang hanya seorang hawa… perlahan-lahan terbunuh damba… 

(al)

7.2.11

Al... The Black Angel


Senyumnya… melunglaikan angkasa, membuat pelangi memudar dengan pesona. Tak cukup aksara melukiskan dirinya…. Hingga riap gerimis berdesir kepayang, mabuk dalam kagum yang menghempas sekuat gelombang, menyesakkan nafas dalam rindu meresah, gelisah. Bintang bersinar di atas kepalanya, membayang sesosok malaikat dengan sayap hitam bermata sempurna. Semoga hatinya sebaik wajahnya.

Ahh.. tahukah kau teman, lelaki ini sungguh memabukkan… 

Riza

Namanya Riza, siswa SMART Ekselensia yang saya kenal secara tidak langsung karena berasal dari daerah yang sama setelah ditakdirkan berada di Bogor, hadir dengan logat Makassarnya yang masih kental, membuat saya dan kawan yang lainnya merindukan kampung halaman. Senyum khas dan tubuh kurang gemuk, jika tak ingin dikatakan cenderung kurus, menyedot perhatian selama jam makan malam. Menatapi dengan seksama cara makannya, menu yang tersaji di piringnya yang kekurangan satu menu karena keterlambatan antrian, mengingatkan adik terkecil saya yang terbiasa makan walau tanpa sayur.

3.2.11

Fokus

Ada yang bertanya pada saya, menanggapi perspektif saya tentang talenta: "bagaimana mengenali kemampuan saya sesungguhnya? Bagaimana mengetahui apa talenta saya sebenarnya?"

Saya pernah menuliskan tentang hal ini sebelumnya. Bahwa saya tidak mempunyai bakat untuk membedakan dan merasakan setiap detail rasa dalam sebuah masakan. Walau kenyataannya saya suka makan, tapi saat disuruh mencicipi berbagai macam kue atau makanan yang sejenis; jika rasanya masih dalam toleransi lidah saya, maka semuanya akan terasa sama saja. Jadi misalnya ada tawaran dari pihak Transcorp untuk menggantikan pak Bondan di acara 'Wisata Kuliner', saya akan menolaknya.

********/*******

Bagaimana mengetahui apa talenta Anda sebenarnya? Bagaimana mengenali kemampuan Anda sesungguhnya? Anda akan tahu jawabannya saat mengerjakan sesuatu yang Anda suka dan membuat Anda bahagia saat melakukannya. Bahkan Anda selalu berusaha meningkatkan kemampuan Anda di bidang tersebut.

29.1.11

Kerabat Bangsa

Kerabat...

Katanya kita kerabat

Dia bilang kita saudara

Mereka bilang kita satu rasa…

Saya permisi… undur dari semua anggap

22.1.11

tanya hati


kali ini kebodohan apalagi yang kubuat? selalu saja menuruti hasrat hatiku.. tanpa memikirkan apa ini sudah wajar? apa ini bukan hanya menjadi angin lalu? semakin hatiku berkeras, semakin banyak goresan-goresan kecil tak terlihat mengubah raut wajah manis itu menjadi bisu. dalam setiap sujudku.. aku memohon.. meminta dengan berurai linangan air mata.. kenapa harus jadi seperti ini? bukank-ah aku sudah bilang pada-Mu? Jangan buat aku terpesona jika itu takkan menjadi milikku! aku sadar aku begitu egois. mungkin ini cara-Mu membalasku.. duniaku dulu tak begini. kenapa tak Kau biarkan saja aku sendiri dalam luka-lukaku? kenapa dia Kau datangkan untuk menghiburku, setelah itu Kau ambil dia kembali? entah harus bagaimana aku menyusun puing-puing kehancuranku ini. mengayamnya menjadi satu lagi..


21.1.11

tentang aku

aku mencoba....
sungguh aku mencoba...
melupakan sentuhan lembut dan senyuman manis itu...
dalam gelapku aku tertatih melangkah...
namun sayang.. sekali lagi aku terjatuh...
aku percaya...
sungguh aku percaya...ini kebaikan untukmu dan untukku...
selalu ada pagi yang cerah setelah malam kelabu...
aku tahu...
sungguh aku tau...
senyummu jauh lebih manis saat tiada lagi bayangku...
tapi aku terlalu lemah untuk berlari...
aku belum mampu berdiri sendiri...
tolong beri sedikit aku waktu....
waktu untuk mengadu rindu...

20.1.11

Apa Senjatamu?

Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik.

Seorang samurai yang hanya bersenjatakan tanto -pisau pendek-, dan terpaksa berhadapan dengan musuh bersenjatakan katana -pedang maut-, tidak boleh menyesalkan senjata yang sedang dipegangnya. Itu tabu!

Menyesali senjata yang ada di tangan, adalah ratapan pasti menuju kekalahan. Yang sudah ada pada Anda adalah senjata penyelamat dan penghebat kehidupan Anda.

Bersyukurlah. Dan hebatkan diri Anda!

~Mario Teguh~

penyesalan quw

Semua kata-kata ini takkan mampu menjelaskan betapa menyesalnya aku.. dulu kamu selalu ada saat aku terluka dan tertawa, dulu aku ga pernah peduli kamu ada ataupun tidak, saat kamu memberikan hidup dan hatimu hanya untukku!! Saat kamu tak pernah pergi dari sisiku sepanjang waktu.. km bilang kamu ga akan membiarkan aku merasa sendiri lagi.. saat km menceriakan hari-hariku yang kelam karenanya!! Kamu selalu bilang betapa kamu mencintaiku dan menginginkanku lebih dari apapun.. kamu bahkan rela menjadi yang kedua.. tapi aku terlalu buta dengan cintanya.. cinta yang maya untukku!! Cinta yang dipenuhi mimpi-mimpi indah palsu... dan kamu selalu mencoba membuatku sadar, tapi aku tak pernah sadar sampai akhirnya kamu menyerah dengan semua perjuangan dan pengorbanan yang telah kamu lakukan untukku!!

13.1.11

entah apa namanya


numpang curhat yee...


pagi ini saya mau ke kampus...
dan kendaraan yang saya pakai itu adalah sebuah motor yang udah cukup jadul *ala sanchai di meteor garden banget*

beberapa km dari rumah saya tiba-tiba turunlah tetesan-tetesan air
saya pikir cuma gerimis biasa
masa badan segede saya takut sama gerimis??
akhirnya saya memutuskan untuk gak pake jas hujan yang ngeribetin itu

12.1.11

Galau


Kenapa semuanya seperti terasa masam, pahit bahkan jika aku mengingat – ingat tentang sebagian dari diriku yang lain. Sebagian itu tidak tahu menahu tentang sesuatu di sebagian yang lain dan berharap yang tidak aku harapkan pada diriku. Seperti utara dan selatan yang tidak mungkin bertemu, air dan minyak yang tidak mungkin menyatu.