8.3.12

Hubungan Tambal Sulam


Kalau saya, menikah atau punya pasangan itu tidak untuk menjadikan hidup saya miserable. Kalau salah satu dari kami tidak bahagia, ya sudah, selesai. Tidak perlu bertahan atas nama kenangan dan kebersamaan yang (pernah) indah. Kalau tidak sanggup sendiri dan memilih tetap bersama ya saya tidak akan mengeluhkan dia yang begini yang begitu. Yo wis resiko.

“Sebuah relasi tidak akan kamu akhiri begitu saja,” menurutmu.

“Piye tho, ini bukan “begitu saja” lho. Tiap saat ada yang selalu menjadi masalah, ada yang ngotot, yang satunya lagi sibuk meredam emosi mati-matian supaya tetap bersama. Apa ndak capek mempertahankan hubungan tambal sulam kayak gitu. Nah kalau saya lebih milih capek nyuci helikoter daripada capek makan hati.”

“Saya akan tetap mengusahakannya dan mempertahankannya.”

Ok, good luck. My best wishes.”

Dan sayapun mulai merasa bersalah karena memintamu untuk mempertimbangkan opsi bubaran meski itu adalah pendapat terakhir saya setelah pertengkaran demi pertengkaran kalian. Bukannya saya tidak berempati pada status lajangmu dan keinginanmu untuk segera menikah. Saya sih mikirnya mumpung masih dalam tahap penjajakan.

Besoknya, baca statusmu di fb, “saya lelah, banget.” Waktu saya bilang untuk bertahan, kamu bilang dia begini dan begitu. Waktu disuruh bubaran ndak mau. Setelah milih untuk berjuang, nah lho... kok lelah siiihhh. Dan sayapun ndak koment karena ndak tahu mau ngomong apa. E-mailmu saja belum kubalas karena kehabisan kata-kata dan jujur, saya blas ndak punya saran. Speechless kata orang jawa.

Sayapun pernah berada di fase tidak mau bubaran dan tidak mau kehilangan. Menangis lebay ngalahin alay. Tapi di usia saya yang semakin uzur saya ogah menambal sulam hubungan yang tidak sehat dan memasuki stadium akut. Bukannya saya dan suami tidak pernah ribut. Ya pastinya pernah, wong kami ini dua orang keras kepala yang berada dalam sebuah pernikahan. Tapi ya tidak tiap hari gitu kami ribut. Bisa habis dong mangkok dan piring di dapur.

Kalian ini dua manusia dewasa yang sudah sepakat untuk menjalani masa penjajakan ini. Mestinya kan kalian secara bersama dan sadar untuk saling menyesuaikan. Saya ini beneran gemes lho lihat kamu yang selalu mengalah. Kesannya kamu harus berjuang keras untuk mempertahankan dia sementara dia bisa semaunya. It takes two to tango.

Tapi embuh maneh kalau kamu memang punya stok kesabaran yang melimpah. Trus piye, dilanjut apa nggak? Kalau jadi saya mau beli gaun buat ke acara kawinan kalian atau nyicil corsagenya dulu paling tidak.


Pesan moral : jangan pesan / beli gaun untuk acara kawinan kalau belum tahu calon pengantin jadi menikah atau tidak. *dilempar mesin jahit*

9.12.11

Catatan Kecil

*Berhubung lama tidak ada yang posting, jadi saya putuskan untuk memposting tulisan narsis dan abal-abal ini.*

Seorang lajang yang dikejar-kejar pertanyaan "kapan menikah" pasti akan mikir betapa bahagianya mereka yang sudah menikah. Tidak perlu repot-repot mencari jawaban setiap pertanyaan tersebut muncul. Bagi yang sudah menikah (tidak semuanya), bisa saja iri melihat lajang yang bisa kesana-kemari, hang out tanpa mikirin suami dan anak. Lalu bagaimana dengan saya? Kenapa memutuskan menikah? Jujur, saya tidak punya sekian alasan yang "ndakik-ndakik." Saya tidak bisa sendirian. Saya butuh teman hidup yang saya cintai dan mencintai saya. That's it. *lebaayyy, ngemut jarik*

I'm single but happy tidak berlaku bagi saya. Toh ternyata hidup saya lebih bernyawa setelah saya menikah. Ada seseorang yang menyambut pagi saya dengan pelukan, mendengarkan ketika saya ingin didengar dan merengkuh tubuh mungil saya ketika semangat saya meluruh. Termasuk didalamnya keributan antara dua manusia yang semula bisa seenak jidatnya menjalani hidupnya.

"Menikah karena ingin punya anak." Lalu bagaimana kalau kau, saya atau siapapun bertemu dengan seseorang yang tidak bisa menghasilkan keturunan, atau sudah melalukan tubektomi atau vasektomi, atau sudah tidak punya rahim lagi pasca operasi kanker, atau apa sajalah. Mati-matian membuang keinginanmu untuk membagi hidupmu bersamamu...? Sah-sah saja, lagipula setiap orang punya alasan kenapa menikah dan bagaimana memilih pasangan hidup. Tapi menikah denga alasan ingin punya anak tidak pernah terlintas di benak saya hingga saya tidak pernah mengkhawatirkan jam biologis saya.

Sayapun pernah merasa risi ketika dikejar pertanyaan oleh seantero jagad "kapan menikah?." Sempat membuat saya kemrungsung ingin segera menikah karena menganggap itu adalah jalan keluar paling sempurna. Sempat terpikir bahwa "writing tresna jalaran saka kulina" mungkin ada benarnya dan saya mau nekat menempuhnya. Untung saja otak saya bisa waras kembali dan sayapun memilih mundur teratur. He is not the right man. Saya boleh jadi lepas dari pertanyaan "kapan menikah" tapi selanjutnya no one knows. Bahagiakah saya atau merana karena ternyata telah salah mengambil keputusan?

"Segala sesuatu indah pada waktunya." Terdengar klise pastinya. Namun saya mengamini kalimat klise itu setelah saya menengok kembali pada perjalanan yang detik demi detiknya membawa saya ke titik ini.


Bagaimana dengan perbedaan budaya? Suami saya orangnya "to the point", nggak ada basa-basi. Mengatakan langsung apa yang ada di pikirannya, tapi sayapun jadi terbiasa terbuka dengan isi kepala saya. Kami tidak membiarkan saling menduga apa yang ada di benak kami sehingga meminimalkan konflik berkepanjangan jika terjadi perseteruan dua kubu. Dan saya masih ingin terus bersamanya, membagi setiap detail perjalanan hidup saya, senyum, keributan, apapun, susah senang.

1.11.11

Sekedar Menyapa :)

Halo teman - teman, kakak - kakak, mbak - mbak sekalian.
Selamat bulan November :)
Semoga selalu diberi kesehatan dan berada dalam lindungan-Nya.
Maaf, sudah lama tidak mampir dan menulis disini :(

14.10.11

MAMPIIIIIIIIIIIIIIIIIRRRRRRRRRRRRRRRRRR

Cuman mau teriakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk SEMUAAAAAAAAAAAA KEMANAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA??????????????????????????

11.10.11

Confession

I was scared.
so. f*cking. scared.

what happens few weeks ago was too good to be true. everything, was too good to be true. but then again, i don’t wanna be a victim of the broken heart anymore. i’m tired of being the third person. i really, really falling too deep for you. i’m too scared yet too happy. it’s like trapped in the same place again if i want something’s not my right. i was really scared. can you understand that…

you’re the first person who making me feeling like a numb person. it’s almost a year, and i’m so scared, and you’re still with her, what should i do now…

‘cause really, i can’t help my self…
i love you…

3.9.11

RANDOM

Udah lama gak ngerasain perasaan ini,,,
udah lama gak mikirin seseorang lagi...

Sekarang, setelah sekian lama, gak suka sama orang,
gw mulai mikirin perasaan seseorang lagiii,
mikirin dia lagi ngapain ato apa kabarnya
bertanya-tanya tentang apa yang lagi dia kerjain

udah lamaaaaaa banget gw gak mikirin seseorang ampe segininya..
tapi gw takut untuk ngelangkah..
takut untuk berharap...
takut untuk memulai..
tapi menyimpan semuanya sendiri juga menyakitkan..

ngeliat dia deket sama cewek laen, digosipin sama cewek laen juga sedihh..
duh,kenapa sih cinta kok jadi alay plus lebay gini??
kok gw jadi menunggu-nunggu sebuah cinta yang gak pasti...


gw jadi labil.. bentar-bentar ketawa sendiri, nangis sendiri.. :(
emang suka segini campur aduknya yah??

21.8.11

Tugas istri sebenarnya apasihhh???


Yah anggap aj gw pembantu lo!!!
Orang yg nyuciin sm nyetrikaiin baju lo!!!
Orang yg bukain lo pintu stiap lo plng malam!!!
Gw bukan sp2 bagi lo,,,dan gw sadar akan hal itu...

Ungkapan esmosi diatas adalah kata-kata seorang teman dalam status muka buku…kalimatnya membuat saya sedikit terlonjak saat membacanya, lama menatap dan akhirnya memutuskan tidak meninggalkan komentar apapun….saya tidak punya cukup keberanian untuk mengetik walau hanya sebuah huruf.

Membaca kalimat diatas, tentu saja akan membuat semua orang yang membacanya berfikiran kalau rumah tangga mereka tidak baik-baik saja. Pilihan kalimatnya mau tidak mau menggiring pemikiran saya kalau dia merasa tidak dianggap sebagai seorang istri tetapi sekedar sebagai pembantu..apakah benar demikian?? Wallahu’alam

Oke…saya tidak punya pengalaman apapun masalah rumah tangga -yaiyalah nikah aja belum- tetapi setahu saya, pernikahan adalah separuh addien yang artinya menjadi pelengkap agama kita, bukan sebagai ajang mencari pembantu gratis sodara!!!

Walaupun akhirnya seorang perempuan setelah menikahnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga misalnya mencuci, memasak, membersihkan rumah, dan pekerjaan remeh temeh lainnya yang mungkin biasa menjadi pekerjaan seorang khadimah, yah menurut saya itu hanya cara yang dipilihnya untuk menunjukkan bahwa ia adalah seorang istri yang bertanggung jawab terhadap urusan dalam rumahnya.

Okeee ada pendapat dari para istri-istri? Saya udah gak bisa nulis lebih panjang lagi dari ini :D

4.8.11

Selamat Ulang Tahun Sahabat



Sahabatku,

Nampaknya engkau sedang jatuh cinta (lagi)

Pada seseorang yang penuh perhatian padamu

Walau belahan jiwamu slalu setia menantimu

Sahabatku,

Engkau sedang berada di persimpangan jalan

Tuk lanjutkan perjalanan bersama belahan jiwamu

Atau menepikan hatimu sejenak

Pada si dia yang telah memesonamu

Hatimu sedang dilanda dilema

Mengikuti belahan jiwamu

Walau bahagia masih jauh panggang dari api

atau mengikuti si dia

Walau hanya bahagia semu tiada arti

Kau slalu merindukannya, kala dia sedang pergi

Namun kau slalu menjauh, kala dia sedang mendekatimu

Walau kau hanya ingin menyimpannya dalam sudut hatimu

Dan aku menjadi tumpahan amarahmu

Kala hatimu sedang terluka

Saat dirinya sedang menjauh darimu

Di hari ulang tahunmu ini

Kukembalikan hatimu yang telah kucuri, pada belahan jiwamu, selamanya

Selamat Ulang Tahun Sahabat, semoga engkau menjadi lebih dewasa dan semakin bijak ...

31.7.11

Pengen nangissssss :((

Genta kenangan hadir menciptkan sesak
Hingga tangis akhirnya kuteguk
Dalam dinding beku tak bertuan
Dan kupilih padamkan dian


Tak pernah berpikir akan bisa bertemu kembali dengannya setelah lama tidak bersua  dan mengetahui apapun tentangnya. Kini dia hadir tepat didepan saya, dan akhirnya membuat saya ingin meluruhkan sesak yang menjelma air mata.
Apa yang dia bawa kembali?? Tidak ada, hanya sejumput kenangan yang ingin kuenyahkan jauh-jauh, dan kini serupa tanpa dosa dia datang membawa apa yang telah kulemparkan dahulu. Ingin kupinta padanya untuk pergi, jauh dari batas pandangku, tapi lagi-lagi lisanku hanya menyuarakan kekosongan.

24.7.11

Mengingat Mati


Palembang, 2011 Juli dihari ke-15

Umurku 24 tahun 7 bulan 15 hari kini, aku tidak punya apa-apa selain keluarga, beberapa teman. Yah itulah yang kumiliki sekarang, minimal hanya itu yang bisa kuakui kumiliki. Itupun hanya untuk sementara waktu sampai akan tiba saatnya Pemilik yang sesungguhnya akan datang dan mengambilnya tanpa bisa kucegah.

Semua orang pernah merasai kehilangan -tentu saja- dan aku…aku mungkin termasuk dalam golongan orang yang masih merasa sulit menerima kehilangan seseorang. Saya bisa dengan yakin mengatakan, insyaAllah bisa menerima kehilangan barang dengan lapang, seperti saat harus kehilangan hp pertama yang diberi orang tua, kehilangan beberapa pulpen biru, kehilangan peralatan-peralatan gambar, kehilangan ratusan ribu lembar rupiah. Tapi rasanya, saya tidak selapang itu ketika harus kehilangan orang-orang terdekat dalam hidup.

Saya masih mengingat dengan jelas, bahkan bisa menjelaskan detail peristiwa saat kakek saya menjelang meninggalnya. Mengingat saat kecil, saya merasa hanya dia yang menyayangi saya, mengingat ketika beliau habis menerima pensiunannya, akan teriak dari bawah rumah mengajakku membeli krupuk ‘kopi susu’. Mengingat saat saya diiming-imingi upah agar bersedia mencabuti rambut putihnya, mengingat dia menggendongku saat pura-pura tidur  karena aku tidak ingin pulang ke rumah.

Malam ini, ingatan akan orang-orang yang pernah datang, singgah dan kemudian pergi dalam hidup saya datang silih berganti. Dan saya lupa kapan terakhir kali merapalkan doa untuk mereka.
Malam ini anggap saja saya menyelesaikan satu fase renungan singkat, saya mengingat apa saja yang pernah saya lakukan, mengingat orang-orang yang pernah selintasan jalan dalam poros saya, mengingat orang-orang yang mungkin pernah merasa tersakiti karena saya, mengingat betapa keras kepalanya saya dan betapa sulitnya mengucap maaf.

Dan saya disini kini…berfikir…mungkinkah saat saya meninggal kelak, akan ada orang yang mengingat saya seperti saya mengingat kakek saya? mungkinkah akan ada orang yang bersedia mengucap barisan doa untuk saya? akan ada yang menyimpan kenangan tentang saya dengan begitu rapi? Entahlah…


*note....menunggu modem nyampai untuk mosting ini

20.7.11

Cuaca dan Kostum


Cuaca.... Ramalan cuaca yang bila diabaikan bisa membuat berantakan beberapa hal. Salah kostum, itu salah satu contohnya yang bisa bikin sebel. Nggak ada persiapan payung atau jas hujan, itu lebih bikin kesal.

Payung atau jas hujan...?? Saya nggak punya jas hujan. *sengaja* Jadi kalau kemungkinan besar turun hujan, cukup bilang “Lief, wil jij morgen mij brengen? (Lief, besok mau antarkan aku?). Jurus andalan itu selalu mempan, jadinya saya bisa menikmati fasilitas antar jemput.

Di Indonesia rasanya nggak ribet-ribet amat, mesti tahu prakiraan cuaca dan sejenisnya. Di Belanda, woowww bisa lain ceritanya. Cuaca disini cenderung basah, maksudnya sering turun hujan gitu, tidak ketinggalan angin yang selalu rajin berhembus. Mulai dari skala mendesah sampai dengan skala yang “gemrubug,” kencang disertai suara yang menggelora.

Musim panas juga nggak berarti matahari bersinar dengan centilnya sepanjang hari. Bisa saja paginya anget bin sumringah, siangnya hujan dingin semriwing. Disini cuaca bisa berubah seketika nggak pake permisi. Malam hari biasanya saya udah mantengin ramalan cuaca. Setelahnya paling tidak saya jadi tahu besok pakai baju yang lumayan menghangatkan atau cukup baju tropis.

16.7.11

You're not center of the world

“Lihat perempuan disana, kampungan banget ya bajunya.”
So what, is that a crime??!! *diam, menelan ludah*

“Kampungan banget pria itu, jalan pake celana selutut.”
Hellloooo, dit is zomer. Zomer….. summer… apapun namanya yang jelas panas tau!!! *masih diam, ambil napas dalam-dalam*

Merajut yukk...


Assalamulaikum...
Merajut..merajut..merajut..semua serba merajut, udah 3 bulan ini belajar merajut, bermula dari temen kantor yang beli benang rajut akhirnya ikutan tertarik merajut. Merajut itu sebenernya gampang2 susah tapi intinya terus belajar.
Oke..ini niy yang pertama kali saya lakukan waktu mau belajar merajut, boleh siy jadi tips buat kalian yang mau merajut *merajut benang lhoo bukan merajut kasih :D*

10.7.11

Lelahmu..

Telah lama ku minta untuk berhenti
Tapi kau tetap memaksakan diri
Untuk tetap bisa menjalani semua ini
Masih berharap pada semunya mimpi
Hingga kini kau bilang, lelah sendiri
Karna aku telah lama berhenti untuk peduli
Tapi kau tak jua mengerti
Cinta ini sampai kapanpun tak bisa kita miliki bahkan sekalipun kita beli
Hingga akhirnya kau menyerah dan berhenti mencintai
Baguslah, akhirnya kau mau mengerti untuk bisa melepas kisah ini..

9.7.11

The Rooftop

Ingat saat di rooftop dulu chér? Aku masih ingat tiap detilnya. Haha, pasti aku terlihat begitu menyedihkan di matamu sekarang … menulis hal-hal seperti ini seperti orang tak punya kerjaan. Padahal, mungkin saja kau sedang bersama dia sekarang. Atau ‘teman’ mu. Aaarrrggh! Sudahlah! Aku tak akan bahas mereka kali ini. Menuliskannya saja sudah membuatku sebal.

Anyhow, kemarin aku bernostalgia di rooftop sana. Obrolan, gerimis, iPod, Un Soir du Paris, Filosofi Kopi, Stanza dan Blues, bisikan, genggaman tangan, kecupan pipi. Semuanya masih terekam jelas. Haha, i feel like the real pathetic now.

O well yang jelas, langit di bagian barat sangat indah kemarin. Dan ternyataa, kita juga sudah menghadap ke barat, sayangnya tidak di waktu yang tepat. Like what people said, bad timing.

Tiba-tiba aku jadi teringat kalau kau pernah meliput Bekasi Jazz Festival! Pasti keren sekali di sana! Sebuah festival jazz, berbagai artis, di malam hari, di sebuah rooftop. Dan seandainya bersamamu saat itu, aku pasti takkan fokus menonton mereka. Mungkin hanya akan menggenggam erat tangan dan curi pandang akan wajahmu. Hahaha, what a dream L*** what a dream.

Aaah, banyak sekali hal yang kuingat tentang mu chér …

Adakah kenangan tentang ku yang terekam di benak mu? Ah tidak. Tadi terlalu muluk. Bagaimana kalau ini ; Sempatkah aku melintas di pikiranmu barang sejenak?



Bekasi, 15 November 2010.

7.7.11

Am I abnormal???Or Just another Irational Woman???Maybe both???




CINTA...Lima huruf dengan sejuta makna sejuta cerita. Terkadang aku bisa menjadi bodoh karena cinta, ya karena mencintaimu. Tapi aku tak pernah surut, meskipun harus menabur garam dalam luka yang menganga.

1.7.11

Khitanan dan Manusia

Khitanan… baru kali ini saya melihat secara langsung acara khitanan massal, mendengar suara jerit dan tangisan bocah-bocah di dalam ruangan yang saling menimpali satu sama lain. Cukup satu kali menyaksikan acara ini dan menyadarkan saya bahwa, kita seringkali menjalani hidup ini seperti bocah yang hendak dikhitan.
Di hadapan saya, seorang bocah sudah terlebih dahulu membanjiri wajahnya dengan tangisan sebelum masuk ke ruangan ‘eksekusi’, yang dengan berbagai cara sang ibu berusaha meredakan tangisannya, dan senjata pamungkasnya adalah “ayo jangan nangis, lihat itu ada hadiahnya kalau habis disunat” mendengar itu akhirnya sang bocah berusaha diam, walau tetap saja sesunggukan tak kunjung henti.

8.6.11

Kau Kata

Kau kata, "Aku bukanlah pelukis"
tapi kau menoreh kebahagiaan dalam duniaku
menyinggahi setiap sudut kanvasku dengan harapan
menjalari dengan warna-warna kerinduan
Kau kata, "Aku bukanlah penulis"
tapi kau semakin lihai menyihirku dalam aksara meratu
mencumbui setiap ronggaku dengan keindahan
melahirkan syair-syair bersayap yang membelai kecintaan

28.5.11

Just so Tired of Being Me


Ada banyak kebaikan ayah, yang dapat kita tiru, namun ada kalanya juga sang ayah mengecewakan kita

Bukan hanya mengecewakan, bahkan menyakiti, dan membuat diri kita tersiksa...

ingin marah, tapi kita kadang tak mampu berucap sepatah katapun
kita berada di posisi di mana kita tak menerima keadaan ini, namun semuanya hanya menjadi harta karun yang tersimpan aman dalam sebuah peti...

..........

Perempuan itu merasa kesepian walaupun nyatanya dia berada di tengah keramaian...

Kemanapun perempuan itu berlari, rasanya selalu saja "hujan" deras itu turun dan menghampirinya...

Ada kalanya dia bersembunyi, dan berteduh dari derasnya air "hujan",
tapi dia tetap merasa kedinginan

Ingin dia pergi dan berlari, mencari secercah sinar, yang kemudian akan memberinya harapan...