7.7.11
Am I abnormal???Or Just another Irational Woman???Maybe both???
1.7.11
Khitanan dan Manusia
Di hadapan saya, seorang bocah sudah terlebih dahulu membanjiri wajahnya dengan tangisan sebelum masuk ke ruangan ‘eksekusi’, yang dengan berbagai cara sang ibu berusaha meredakan tangisannya, dan senjata pamungkasnya adalah “ayo jangan nangis, lihat itu ada hadiahnya kalau habis disunat” mendengar itu akhirnya sang bocah berusaha diam, walau tetap saja sesunggukan tak kunjung henti.
8.6.11
Kau Kata
tapi kau menoreh kebahagiaan dalam duniaku
menyinggahi setiap sudut kanvasku dengan harapan
menjalari dengan warna-warna kerinduan
Kau kata, "Aku bukanlah penulis"
tapi kau semakin lihai menyihirku dalam aksara meratu
mencumbui setiap ronggaku dengan keindahan
melahirkan syair-syair bersayap yang membelai kecintaan
28.5.11
Just so Tired of Being Me

Ada banyak kebaikan ayah, yang dapat kita tiru, namun ada kalanya juga sang ayah mengecewakan kita
Bukan hanya mengecewakan, bahkan menyakiti, dan membuat diri kita tersiksa...
ingin marah, tapi kita kadang tak mampu berucap sepatah katapun
kita berada di posisi di mana kita tak menerima keadaan ini, namun semuanya hanya menjadi harta karun yang tersimpan aman dalam sebuah peti...
..........
Kemanapun perempuan itu berlari, rasanya selalu saja "hujan" deras itu turun dan menghampirinya...
Ada kalanya dia bersembunyi, dan berteduh dari derasnya air "hujan",
tapi dia tetap merasa kedinginan
Ingin dia pergi dan berlari, mencari secercah sinar, yang kemudian akan memberinya harapan...
21.5.11
dia... (lelaki yang kembali)
Betapa nasib memang sudah ada garis edarnya, tak kasat mata. Ditelapakku, ditelapakmu tertulis ia. Karenanya aku tak heran, ketika disini, disebuah persimpangan lain kehidupan, tak sengaja kita beriringan. Kudapati kau lagi, lelaki. Masih dengan mata sorot mata itu dan senyum yang mampu melambatkan waktu....
Ahh... Tiba-tiba aku ingin tiap detik ini membeku.
18.5.11
Sableng ^_^
7.5.11
Lagi-lagi tentang Mereka
Ada banyak hal yang kudapatkan dari mereka malam ini. Dari Adi, aku belajar secara langsung bertahan dari kehilangan, hal yang paling kutakuti. Di umurnya yang baru 10 tahun, ia telah kehilangan sang ayah, hanya ibu dan sang kakak yang menemani. Tapi jangan harap akan menemukan sendu di wajahnya, di kelas dia akan selalu ceria, tak kenal menyerah untuk menyelesaikan soal matematika yang kuberi dan semangat bermain ketika bertemu bola dan lapangan.
6.5.11
Pesan Tersirat dari Ibu Pemijat

Kemarin dapet jatah libur yang akhirnya dimanfaatin buat traditional massage plus luluran yang makan waktu ampe 3 jam.
4.5.11
Everything Will be Alright

"Aku lagi nyari cowok, kenalin sama siapa gitu, bantuin dong?" Request seorang teman via YM.
"Lah suamimu mau kau kemanakan?"
Mau dikardusin trus dikirim ke Timbuktu kali? Saya juga nggak tahu pasti. Menurut penuturannya sih dia pengen menyudahi dan ganti pasangan aja. *ini suami opo casing bb to?*
"Mbok ndak usah ganti, instal ulang ae nek error." *usul yang cukup absurd*
3.5.11
Jeda

Malam tadi, aku bertemu lagi dengannya, lelaki badai ku. Sungging di bibir yang aku rindu, seperti kopi yang kusesap tiap pagi, pahit cemas, namun tak sekalipun berasa ampas.
Seperti biasa, antara kami… diam adalah aksara sunyi yang paling bermakna. Dalam senyap entah kenapa, begitu gampang menjaring rindu yang bersarang dimanik-manik mata.
Kita bisu luar biasa.
Jeda antara kita terisi udara yang juga menahan lirihnya.
Katamu akhirnya “ketika kita hanya menjadi boneka, pemeran adegan yang sudah disutradarai sang Pemilik Jiwa”
Sorot matamu masih kelabu, sarat dengan pilu… masalalu. Hingga getir langkahmu, ragu pada setiap rindu… pun ketika memandang aku, wanita yang kau sebut “damaimu”
“….Bukankah cerita itu telah berakhir?? Haruskah luka itu selalu tertafsir???....
Dan aku memilih menjamahmu dengan sentuh, berharap semoga segala luka itu luruh. Di luar sana gelagat-gelagat gerimis pun runtuh.
Dingin ini memagut kita, merentangkan berkilo meter lagi jeda, walau tanganmu menaut memeluk pinggang, dan menarik kepalaku ke dada
Sayang… dendammu adalah jaraknya.
1.5.11
Ucapan terima kasih
Ini mampir mau mengucapkan terima kasih buat mba rie ;)...makasih kiriman bukunya buat pasukan cilik, ahhh..rasanya seneng dapet kiriman buku ini, bukan apa-apa, saya habis mampir di gramedia hari ini dan woowwww...harga bukunya lumayan mahal kalau mau beli dalam jumlah banyak :((
terimaaaaaaa kasihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
28.4.11
I wrote it with my heart, not my word
Ok, gua ga tau apa yang gua rasain saat ini. Sedih ato seneng, ga tau... yang jelas. Belakangan ini galau? Memang.. gua rasa gua punya unfinished business sama dia.. dan beberapa bulan terakhir gua emang nyari FB dia. Salah?
Setelah gua nemuin FB dia, entah rasa apa yang ada di sebelah sini...
Sakit iya.
Seneng iya.
Tapi sedih juga.
Meninjau ulang hubungan kami di masa lalu yang kurang baik, membuat gua sedikit menyesal...
Sedikit sedih.
27.4.11
26.4.11
25.4.11
absurd
tubuh terasa kaku tak berdaya
erangan demi erangan tidak terdengar
sesak atas entah
terus terasa tidak enak
tidak ingin terpejam hanya berdiam
apa itu , kumohon pergilah!
23.4.11
KUSUT!
Hai hallo… *hening*
Errr…saya gemes sama diri saya niyh. Niat menulis menggebu-gebu, namun apa daya saya tidak bisa menulis. Menulis seperti mereka-mereka yang jago nulis. Katanya kalo lagi ga bisa nulis, mampet, buntu yang konon katanya bernama writer's block, kita harus banyak membaca dan akan datang inspirasi. Memang sich. Tapi kok saya enggak ya. Saya malah keenakan membaca sampe males nulis. Akhirnya baca doank *ditamparbuku*. Lihat lapak saya disini saja mlompong. Padahal saya tahu banyaaak sekali yang merindukan saya. betul tidak??? *masih hening*
Celoteh dan Riuhnya
20.4.11
Posting yang terlambat
Ada yang menggeliat minta dilukiskan
Untuk jadi kepingan sejarah dimasa nanti
Sayang kuas yang kupunya tertinggal di lorong gelap
Hingga semua hanya menggumpal
Kutiti jalan menikung, coba cari warna terang
Bersama setitik cahaya kunang
Sebagai bekal melawan sunyi

