3.5.11

Jeda


Malam tadi, aku bertemu lagi dengannya, lelaki badai ku. Sungging di bibir yang aku rindu, seperti kopi yang kusesap tiap pagi, pahit cemas, namun tak sekalipun berasa ampas.

Seperti biasa, antara kami… diam adalah aksara sunyi yang paling bermakna. Dalam senyap entah kenapa, begitu gampang menjaring rindu yang bersarang dimanik-manik mata.

Kita bisu luar biasa.

Jeda antara kita terisi udara yang juga menahan lirihnya.

Katamu akhirnya “ketika kita hanya menjadi boneka, pemeran adegan yang sudah disutradarai sang Pemilik Jiwa”

Sorot matamu masih kelabu, sarat dengan pilu… masalalu. Hingga getir langkahmu, ragu pada setiap rindu… pun ketika memandang aku, wanita yang kau sebut “damaimu”

“….Bukankah cerita itu telah berakhir?? Haruskah luka itu selalu tertafsir???....

Dan aku memilih menjamahmu dengan sentuh, berharap semoga segala luka itu luruh. Di luar sana gelagat-gelagat gerimis pun runtuh.

Dingin ini memagut kita, merentangkan berkilo meter lagi jeda, walau tanganmu menaut memeluk pinggang, dan menarik kepalaku ke dada

Sayang… dendammu adalah jaraknya.

1.5.11

Ucapan terima kasih

Assalamu'alaikum warahmatullah.....


Ini mampir mau mengucapkan terima kasih buat mba rie ;)...makasih kiriman bukunya buat pasukan cilik, ahhh..rasanya seneng dapet kiriman buku ini, bukan apa-apa, saya habis mampir di gramedia hari ini dan woowwww...harga bukunya lumayan mahal kalau mau beli dalam jumlah banyak :((

terimaaaaaaa kasihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

28.4.11

I wrote it with my heart, not my word

Ok, gua ga tau apa yang gua rasain saat ini. Sedih ato seneng, ga tau... yang jelas. Belakangan ini galau? Memang.. gua rasa gua punya unfinished business sama dia.. dan beberapa bulan terakhir gua emang nyari FB dia. Salah?

Setelah gua nemuin FB dia, entah rasa apa yang ada di sebelah sini...

Sakit iya.

Seneng iya.

Tapi sedih juga.

Meninjau ulang hubungan kami di masa lalu yang kurang baik, membuat gua sedikit menyesal...

Sedikit sedih.

27.4.11

Dia

terbentuk ke segala arah

berada di mana saja,

dan tersentuh siapa saja

dialah yang tidak tertebak

26.4.11

a n n i v e r s a r y


Happy 

Go

Lucky

:)



25.4.11

absurd

mata terpejam otak menganga
tubuh terasa kaku tak berdaya
erangan demi erangan tidak terdengar
sesak atas entah
terus terasa tidak enak
tidak ingin terpejam hanya berdiam
apa itu , kumohon pergilah!

23.4.11

KUSUT!

Hai hallo… *hening*

Errr…saya gemes sama diri saya niyh. Niat menulis menggebu-gebu, namun apa daya saya tidak bisa menulis. Menulis seperti mereka-mereka yang jago nulis. Katanya kalo lagi ga bisa nulis, mampet, buntu yang konon katanya bernama writer's block, kita harus banyak membaca dan akan datang inspirasi. Memang sich. Tapi kok saya enggak ya. Saya malah keenakan membaca sampe males nulis. Akhirnya baca doank *ditamparbuku*. Lihat lapak saya disini saja mlompong. Padahal saya tahu banyaaak sekali yang merindukan saya. betul tidak??? *masih hening*

Celoteh dan Riuhnya

Aku tidak pernah dan insyaAllah tidak akan menyesal berada ditempat ini, disini saya belajar banyak hal dari mereka...yah mereka yang umurnya baru 10 tahun

20.4.11

Posting yang terlambat

Bogor, 05 Maret 2011

Ada yang menggeliat minta dilukiskan
Untuk jadi kepingan sejarah dimasa nanti
Sayang kuas yang kupunya tertinggal di lorong gelap
Hingga semua hanya menggumpal

Kutiti jalan menikung, coba cari warna terang
Bersama setitik cahaya kunang
Sebagai bekal melawan sunyi

14.4.11

Temu Kangen

Ini ceritanya lagi pengen merapatkan barisan (hmmm syukur-syukur kalo bisa rapat) jadi... setelah saya perhatikan aktifitas di ptw ini kok ya semakin menipis.... termasuk saya juga... maka dari itu... aaaaahhhhh... saya semakin berbelit belit... intinya pengen temu kangen aja sama penulis-penulis ptw...
ayo yooook kita conference YM bareng... Minggu malem gimana? Jam 8 malem gitu... saya tunggu... pokoknya tiada kesan tanpa kehadiranmu deh... yuk yaaaa....


*PS : yang kebetulan tahu undangan ini, mohon disampaikan sama saudara/i yang lain

13.4.11

Muara...


Warna pelangi luruh sore itu, di manik-manik matamu yang pilu dan meragu. Ahh, Kekasih hati, haruskah kutunggu lagi matahari esok pagi untuk bisa menempiaskan sedikit basah dan membangun pelangimu kembali??

Atau jika boleh izinkan aku cuma menjadi samudera, dunia tempatku berpapasan dengan semesta, memeluk topan dan juga murkanya. Di atasku ribuan bintang becermin tenang kala malam, dan kidung-kidung perahu nelayan yang lelah dalam setiap kayuhan, mendamba daratan.

“Lebih dari itu mereka tahu, aku selalu menunggumu sebagai sungai yang mengalir…. di muarakulah arusmu akan menemu akhir”

1.4.11

merapal...melarung...

kurapal mantra yang kucuri dari jantungnya, perempuan...
dan ku larung bersama daun-daun kering yang hanyut ditimang sungai
meningkahi saat hantu-hantu masa lalunya terlalap api lautan 

31.3.11

Hujan

1.42 AM

hujan lagi. deras. aku belum tidur. kau sedang apa? telfon? chatting? internet? tidur? rasanya sendu sekali sekarang. memikirkan orang yang belum tentu memikirkan kita. yaah, memang sih aku bukan satu-satunya yg merasa sendu di dunia ini … kau juga selalu merasakannya tiap pikirkan dia bukan?

tapi dia tidak baik untukmu.
dan aku sangat baik untukmu.

pede?
memang!
biar saja!

aku baik untukmu dan kau baik untukku.
kita cocok.
itu yang ku tahu.

well hey! we should hang out ya know!
_________________________
salam kenal kakak" PTW ^-^

30.3.11

Cantik itu putih....??? Putih itu cantik...??

"Kenapa pakai produk pemutih?"

"Ya biar putihlah, biar cantik?"

Saya tidak sedang ngomongin siapa-siapa. Saya lagi ngomongin diri saya sendiri. Apakah saya pernah tertarik dengan produk pemutih? Pastinya pernah.

"Kapan? Trus beli berapa kilo?" *emange semen*

24.3.11

Mereka

Ada kerinduan yang berdentang dipenghujung senja,
Rindu pada mereka…mereka yang tiap hari bertemu wajah
Mereka yang setiap pagi menyambut depan pintu kayu
Yang dengan menatap senyumnya hati ini dipenuhi bahagia

Senyum itu penuh arti,
Senyum yang berbeda
dengan senyum yang kami, dia, kita punyai
bahkan saya tak memiliki senyum itu

Ah mereka,
senja ini merindukannya
Padahal senja baru saja mengundurkan pertemuan
Dan esok mentari pun akan mengatur temu dengannya

Entah esok bertemu atau tidak, masih misteri
Milik Sang Penggenggam Nafas…
Tapi kuyakin, senyum mereka akan tetap menyambut pagi
Seperti mentari sejukkan alam

22.3.11

'Refugee'


Pernah nggak kalian berada di samping seorang “refugee”, duduk bersamanya serta mendengar kenapa dia bisa ada di negeri antah berantah yang begitu jauh dari tempat dia dilahirkan…??

“Kalau aku tidak pergi, bisa jadi aku sudah mati,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena aku perempuan dan berpendidikan tinggi. Temanku mati ditembak oleh rezim penguasa tepat di sebelahku ketika kami sedang berjalan beriringan. Beruntung aku lolos dari desingan peluru yang nyaris merenggut nyawaku. Karena aku perempuan maka aku harus diam di rumah. Melanggar pasti ada konsekuensinya.”

8.3.11

JFJB_2… (Tentang Kehilangannya)


“There are things…

That we don’t want to happen, but have to accept,

Things we don’t want to know, but have to learn,

And people that we think we cant live without, but have to let go”



Dan begitulah hidup. Ada hal-hal yang sangat ingin kita hindari namun akhirnya oleh Tuhan, kita ditakdirkan untuk berpapasan, bahkan mungkin berkenalan, mau tak mau, suka tak suka. Begitu juga ketika kita harus melepaskan seseorang yang telah menjadi bagian hidup kita dalam waktu tertentu, membiarkannya berlalu seumpama mengikatkan tali ke leher sendiri, mengencangkannya sampai tidak ada udara pada paru-paru yang harusnya terisi… tiba-tiba kau merasa mati.

Morning Humming


Kita punya banyak sekali mimpi, dan kita masih hanya bermimpi
Riang gembira walaupun hanya begini saja
Kita nikmati apapun yang membawa kita kesana
Suasana yang selalu kita impikan
Kehidupan yang kita idam – idamkan
Tanpa tergesa – gesa dan terus berusaha, semuanya kita bagi sama – sama
Aku sedih kamu rasa
Kamu senang aku juga rasa
Kamu, aku, kita sama-sama rasa
Dan hidup kita adalah tentang berbagi rasa



5.3.11

Sayang, ingatkah kau???



Sayang, ingatkah kau??? Kala itu kau berlari di sisiku. Kan menjajari langkah kecilku. Setiap kau merasa terlalu cepat dariku, kau akan memperlambat langkahmu. Kau bisa menambah kecepatan dan meninggalkanku jauh di belakang. Tapi, kau tak pernah melakukan itu. Kau terus berusaha memperkecil langkahmu dan terus berlari kecil di sisiku. Peluhmu memang tak sedahsyat peluhku. Menurutmu langkah kecilku hanya segelintir dari beban hidupmu. Namun, kau tetap tersenyum dan menyemangatiku.

4.3.11

Welcome home, Honey!!!



Merdu suaramu terus mengalun menyanyikan senandung lagu pop Melayu. Kau tahu bahwa aku begitu menyukai lirih suaramu yang berusaha berjinjit mencapai cengkok-cengkok rumit. Dan aku selalu tertawa melihat kau begitu berusaha menyenangkanku. Mungkin memang semua belum terlalu lama kita jalani. Hanya dalam hitungan bulan kusadari bahwa kau telah memenuhi sisi kosong hatiku dengan rindu yang terus membeludak. Tak ada lagi ungkapan "Rindumu tak sebanyak kerjaanku". Rinduku justru jauh melebihi kerjaanmu yang selalu menumpuk, sayang.