20.4.11

Posting yang terlambat

Bogor, 05 Maret 2011

Ada yang menggeliat minta dilukiskan
Untuk jadi kepingan sejarah dimasa nanti
Sayang kuas yang kupunya tertinggal di lorong gelap
Hingga semua hanya menggumpal

Kutiti jalan menikung, coba cari warna terang
Bersama setitik cahaya kunang
Sebagai bekal melawan sunyi

14.4.11

Temu Kangen

Ini ceritanya lagi pengen merapatkan barisan (hmmm syukur-syukur kalo bisa rapat) jadi... setelah saya perhatikan aktifitas di ptw ini kok ya semakin menipis.... termasuk saya juga... maka dari itu... aaaaahhhhh... saya semakin berbelit belit... intinya pengen temu kangen aja sama penulis-penulis ptw...
ayo yooook kita conference YM bareng... Minggu malem gimana? Jam 8 malem gitu... saya tunggu... pokoknya tiada kesan tanpa kehadiranmu deh... yuk yaaaa....


*PS : yang kebetulan tahu undangan ini, mohon disampaikan sama saudara/i yang lain

13.4.11

Muara...


Warna pelangi luruh sore itu, di manik-manik matamu yang pilu dan meragu. Ahh, Kekasih hati, haruskah kutunggu lagi matahari esok pagi untuk bisa menempiaskan sedikit basah dan membangun pelangimu kembali??

Atau jika boleh izinkan aku cuma menjadi samudera, dunia tempatku berpapasan dengan semesta, memeluk topan dan juga murkanya. Di atasku ribuan bintang becermin tenang kala malam, dan kidung-kidung perahu nelayan yang lelah dalam setiap kayuhan, mendamba daratan.

“Lebih dari itu mereka tahu, aku selalu menunggumu sebagai sungai yang mengalir…. di muarakulah arusmu akan menemu akhir”

1.4.11

merapal...melarung...

kurapal mantra yang kucuri dari jantungnya, perempuan...
dan ku larung bersama daun-daun kering yang hanyut ditimang sungai
meningkahi saat hantu-hantu masa lalunya terlalap api lautan 

31.3.11

Hujan

1.42 AM

hujan lagi. deras. aku belum tidur. kau sedang apa? telfon? chatting? internet? tidur? rasanya sendu sekali sekarang. memikirkan orang yang belum tentu memikirkan kita. yaah, memang sih aku bukan satu-satunya yg merasa sendu di dunia ini … kau juga selalu merasakannya tiap pikirkan dia bukan?

tapi dia tidak baik untukmu.
dan aku sangat baik untukmu.

pede?
memang!
biar saja!

aku baik untukmu dan kau baik untukku.
kita cocok.
itu yang ku tahu.

well hey! we should hang out ya know!
_________________________
salam kenal kakak" PTW ^-^

30.3.11

Cantik itu putih....??? Putih itu cantik...??

"Kenapa pakai produk pemutih?"

"Ya biar putihlah, biar cantik?"

Saya tidak sedang ngomongin siapa-siapa. Saya lagi ngomongin diri saya sendiri. Apakah saya pernah tertarik dengan produk pemutih? Pastinya pernah.

"Kapan? Trus beli berapa kilo?" *emange semen*

24.3.11

Mereka

Ada kerinduan yang berdentang dipenghujung senja,
Rindu pada mereka…mereka yang tiap hari bertemu wajah
Mereka yang setiap pagi menyambut depan pintu kayu
Yang dengan menatap senyumnya hati ini dipenuhi bahagia

Senyum itu penuh arti,
Senyum yang berbeda
dengan senyum yang kami, dia, kita punyai
bahkan saya tak memiliki senyum itu

Ah mereka,
senja ini merindukannya
Padahal senja baru saja mengundurkan pertemuan
Dan esok mentari pun akan mengatur temu dengannya

Entah esok bertemu atau tidak, masih misteri
Milik Sang Penggenggam Nafas…
Tapi kuyakin, senyum mereka akan tetap menyambut pagi
Seperti mentari sejukkan alam

22.3.11

'Refugee'


Pernah nggak kalian berada di samping seorang “refugee”, duduk bersamanya serta mendengar kenapa dia bisa ada di negeri antah berantah yang begitu jauh dari tempat dia dilahirkan…??

“Kalau aku tidak pergi, bisa jadi aku sudah mati,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena aku perempuan dan berpendidikan tinggi. Temanku mati ditembak oleh rezim penguasa tepat di sebelahku ketika kami sedang berjalan beriringan. Beruntung aku lolos dari desingan peluru yang nyaris merenggut nyawaku. Karena aku perempuan maka aku harus diam di rumah. Melanggar pasti ada konsekuensinya.”

8.3.11

JFJB_2… (Tentang Kehilangannya)


“There are things…

That we don’t want to happen, but have to accept,

Things we don’t want to know, but have to learn,

And people that we think we cant live without, but have to let go”



Dan begitulah hidup. Ada hal-hal yang sangat ingin kita hindari namun akhirnya oleh Tuhan, kita ditakdirkan untuk berpapasan, bahkan mungkin berkenalan, mau tak mau, suka tak suka. Begitu juga ketika kita harus melepaskan seseorang yang telah menjadi bagian hidup kita dalam waktu tertentu, membiarkannya berlalu seumpama mengikatkan tali ke leher sendiri, mengencangkannya sampai tidak ada udara pada paru-paru yang harusnya terisi… tiba-tiba kau merasa mati.

Morning Humming


Kita punya banyak sekali mimpi, dan kita masih hanya bermimpi
Riang gembira walaupun hanya begini saja
Kita nikmati apapun yang membawa kita kesana
Suasana yang selalu kita impikan
Kehidupan yang kita idam – idamkan
Tanpa tergesa – gesa dan terus berusaha, semuanya kita bagi sama – sama
Aku sedih kamu rasa
Kamu senang aku juga rasa
Kamu, aku, kita sama-sama rasa
Dan hidup kita adalah tentang berbagi rasa



5.3.11

Sayang, ingatkah kau???



Sayang, ingatkah kau??? Kala itu kau berlari di sisiku. Kan menjajari langkah kecilku. Setiap kau merasa terlalu cepat dariku, kau akan memperlambat langkahmu. Kau bisa menambah kecepatan dan meninggalkanku jauh di belakang. Tapi, kau tak pernah melakukan itu. Kau terus berusaha memperkecil langkahmu dan terus berlari kecil di sisiku. Peluhmu memang tak sedahsyat peluhku. Menurutmu langkah kecilku hanya segelintir dari beban hidupmu. Namun, kau tetap tersenyum dan menyemangatiku.

4.3.11

Welcome home, Honey!!!



Merdu suaramu terus mengalun menyanyikan senandung lagu pop Melayu. Kau tahu bahwa aku begitu menyukai lirih suaramu yang berusaha berjinjit mencapai cengkok-cengkok rumit. Dan aku selalu tertawa melihat kau begitu berusaha menyenangkanku. Mungkin memang semua belum terlalu lama kita jalani. Hanya dalam hitungan bulan kusadari bahwa kau telah memenuhi sisi kosong hatiku dengan rindu yang terus membeludak. Tak ada lagi ungkapan "Rindumu tak sebanyak kerjaanku". Rinduku justru jauh melebihi kerjaanmu yang selalu menumpuk, sayang.

Anomali...


Hey, lelaki. Aku bukan wanita itu. Aku bukan dia... dia… dia… atau siapapun diantara para hawa yang pernah menyanding bahumu. Menggelayut manja di pundak kokohmu. Wanita dalam dongeng para dewi dan kisah para pujangga yang tergores dalam puisi.

Aku sedikit anomali, begitu aku menyebut diriku sendiri.

28.2.11

Doa mimpi...


Betapa aku menikmati setiap detik menunggui kau terlelap. Menikmati setiap helaan nafas di dadamu yang tenang. Menikmati sentuh-sentuh mimpi yang kadang memainkan ujung-ujung bibirmu. Kuciumi kau belahan jiwa, perlahan-lahan saat kau terlena sambil berdoa…

Mengejar waktu denganmu


waktu seakan tak pernah lelah mengejekku
menyisakan sekelumit kisah luka
teringatku kala dia berkata "wake up!! waktu takkan menunggumu karena dia terus berputar!!"
tapi kamu dengan sejuta sabar terus beriring berjalan di sisiku
tak kau hiraukan waktu yang terus berjalan
tak kau hiraukan waktu yang perlahan meninggalkanmu jauh
tak kau hiraukan sergapan geropohnya yang terus memuaikan fisikmu
tak kau hiraukan jalan panjang yang membentang

27.2.11

Rumah Kita

Mampukah kau lupakan kisah lalu?

Berjalan lurus tanpa menengok yang terlewat

Cukup berdiri dan berjalan disana, diujung jalan menikung

Tunggu aku menghampiri, menyambut apa yang kan terberi


Jika senyum itu lupa terbawa

Sertakan sepotong pengharap agar tangis tak perlu pecah

Hingga rumah yang tertinggal tetap berdiri

Walau rayap tak henti menggerogoti tiang


Lain hari kita susuri kenangan yang tertinggal

Bersama….

Berdirikan rumah yang hampir rubuh

Hias kembali dengan birunya senyuman...


24.2.11

Biarkan saja...


Berhentilah meresah hai Wanita. Bukankah janji itu seperti katanya, hanya tertunda? Bukan berarti tak ditepati, apalagi diingkari. Hanya beberapa waktu saja kau menunggu, bukan seumur hidupmu. Sementara itu, dalam nantimu yang tak akan panjang… kau bisa berjalan-jalan di ambang petang dengan kaki telanjang… merasakan basahnya rerumputan disela-sela jari kakimu yang jenjang. Atau kau bisa melambaikan telunjukmu, hingga kupu-kupu bersayap biru hinggap malu-malu.

23.2.11

aku kamu dan hujan


Riuh rendah suara angin menyapaku, disertai rinai-rinai bulir hujan... tengadahku melihat langit! Kelam... sejauh mata memandang tak ada satu pun kerlip bintang yang kutemui, dulu aku sangat menyukai saat-saat ini, dimana dirimu harus tertahan berada dalam pelukanku! Masih tergiang dalam benakku bagaimana manisnya kecupan yang kau berikan di keningku, lambaian tangan saat kamu beranjak pergi, saat itu aku masih berada di hati yang lain, tak pernah terpikir aku akan sangat merindukan saat-saat itu!

Lelaki malam...


Bola matamu umpama mata air yang tak pernah berhenti mengalir… hingga jika pun resah memanggang jiwa… aku tak pernah merasa dahaga.

Kamu lelaki malamku kini. Yang aku sesap suaranya saat malam mulai merangkak tinggi, bahkan terkadang sampai dinihari menyambangi bumi. Menjajari setiap perbincangan panjang kita, menghela mimpi… hingga membiarkan setiap aksara bersanding dengan kabut subuh hari, luruh di dedaunan dan suara ayam memekik nyaring di kejauhan. Kau memelukku yang terdiam, dan lalu kita sama-sama terpejam.

22.2.11

Sparkling...


Malam ini aku kembali berbincang-bincang… dengannya, lelakiku. Suaranya diseberang sana menyisipkan rindu. Merepihi asa yang tumbuh satu-persatu. Seperti ribuan kepakan sayap malaikat biru… mendendangkan lagu. Nada-nadanya asing… tak ada pembanding. Alam raya khidmat terpesona… terhenti gerak semesta… Seluruh jagad memandangi kita… berputar lambat dengan kita sebagai porosnya. Bintang-bintang jatuh malam itu memendarkan cahaya ragu, kemudian melipir malu… malu pada kilau rindu kita yang lebih terang dari ribuan cahaya bintang dijadikan satu…

“Lalu… adakah hal lain yang indah di dunia, bila yang terasa hanya ada kita dan berlapis-lapis cinta???”